Review

Info
Studio : Paramount Vantage
Genre : Drama, Thriller
Director : Géla Babluani
Producer :
Starring : Sam Riley, Mickey Rourke, Ray Winstone, Jason Statham, Michael Shannon

Jumat, 15 April 2011 - 21:26:46 WIB
Flick Review : 13
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 1025 kali


Wajar rasanya jika melihat nama-nama besar seperti Jason Statham, Mickey Rourke, Ray Winstone dan Michael Shannon bersedia untuk membintangi 13 — sebuah remake dari film thriller sukses berjudul 13 Tzameti (2006). Ketika dirilis beberapa tahun lalu, 13 Tzameti mendapatkan banyak pujian dari kritikus film dunia ketika naskah yang ditulis oleh sutradara film tersebut, Géla Babluani, dinilai sukses dalam memberikan teror psikologis sekaligus sentuhan drama moralitas yang kuat bagi para penontonnya. Untuk versi Hollywood ini sendiri, Babluani memberikan beberapa perubahan di berbagai bagian naskah ceritanya… yang sayangnya justru membuat 13 kehilangan gregetnya dan menjadikan film ini terkesan terlalu datar untuk dapat dinikmati.

Kisah ceritanya sendiri mengikuti kehidupan Vince Ferro (Sam Riley), seorang teknisi listrik yang saat ini sedang membutuhkan banyak uang untuk dapat membayar biaya perawatan rumah sakit ayahnya serta menyelamatkan rumah keluarganya yang baru saja dijual. Ketika mendapatkan sebuah amplop yang berisi surat undangan untuk mengikuti kompetisi yang menjanjikan hadiah banyak uang, Vince tentu saja tidak menolak kesempatan tersebut. Ia akhirnya mengikuti seluruh instruksi yang ada di surat tersebut, menemui orang yang mengirimkan surat tersebut dan akhirnya menemukan dirinya terjebak dalam sebuah kompetisi yang menempatkan nyawanya sebagai taruhan utama.

Permainan yang harus dilakukan Vince bersama para peserta lainnya adalah semacam permainan Russian roulette yang dilakukan secara berkelompok. Setiap peserta merupakan perwakilan dari seorang petaruh yang akan memenangkan kompetisi tersebut bila wakil mereka berhasil bertahan hidup hingga akhir permainan. Para peserta ini kebanyakan merupakan orang-orang yang dianggap tidak berguna di masyarakat, seperti Patrick Jefferson (Mickey Rourke) yang merupakan seorang narapidana atau Ronald Lynn Bagges (Ray Winstone) yang merupakan seorang penderita gangguan mental, yang kemungkinan besar tidak akan dicari ketika keberadaan mereka lenyap dari muka Bumi.

Harus diakui, bagian cerita ketika para peserta kompetisi berdarah tersebut saling mengacungkan senjata mereka ke kepala para peserta lainnya adalah bagian paling menarik di sepanjang film ini. Babluani sukses dalam menyusun adegan-adegan ini menjadi menit-menit penceritaan yang menegangkan. Kabar buruknya, selain bagian adegan Russian roulette tersebut, 13 sama sekali tidak mampu memberikan penceritaan yang lebih berarti. Beberapa kali, Babluani berusaha untuk menghadirkan kisah personal masing-masing peserta untuk memberikan warna yang lebih mendalam pada film ini. Sayangnya, dialog-dialog yang terbentuk justru terasa begitu datar dan kurang berarti sehingga kebanyakan penonton akan merasa jemu sebelum akhirnya mendapatkan kembali suplai adegan ketegangan dari adegan Russian roulette yang memang terbagi dalam beberapa adegan.

Dari departemen akting, Sam Riley tampil sangat mengecewakan dalam memegang karakter utama dalam film ini. Riley sama sekali gagal untuk membentuk rasa simpati penonton kepada karakter yang ia perankan. Para pemeran lainnya juga tidak memberikan sebuah permainan akting yang istimewa. Jason Statham sepertinya benar-benar kehilangan daya tarik aktingnya ketika ia tidak diharuskan menunjukkan berbagai adegan aksinya. Mickey Rourke sayangnya terjebak dalam karakter yang begitu terbatas sehingga tidak mampu memberikan permainan akting yang lebih mendalam. Hanya Michael Shannon dan Ray Winstone-lah yang tampil cukup memuaskan – itu juga karena dua karakter yang mereka perankan mengharuskan mereka tampil sebagai karakter dengan keadaan kesehatan mental yang sedikit dipertanyakan.

Seandainya Babluani mau lebih memperdalam tampilan adegan-adegan berdarah dan action dalam film ini, dan mengurangi usahanya dalam memberikan tampilan dramatis kepada para penontonnya, mungkin 13 masih akan dapat benar-benar dinikmati sebagai sebuah thriller. Dengan kehadiran banyaknya karakter di dalam jalan cerita, tak dapat disangkal Babluani seringkali terlihat sedikit kebingungan untuk menentukan fokus ceritanya. Beberapa adegan menegangkan yang ditawarkan di beberapa bagian film menjadi sentuhan terbaik yang dapat diberikan Babluani di sepanjang film. Selebihnya, 13 terkesan sebagai sebuah film dengan terlalu banyak narasi datar yang kemungkinan besar akan menjemukan banyak penontonnya.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.