Review

Info
Studio : MD Pictures
Genre : Horror
Director : Kimo Stamboel
Producer : Manoj Punjabi
Starring : Caitlin Halderman, Jovarel Callum, Junior Roberts, Shandy William, Sonia Alyssa, Taskya Namya

Senin, 25 Juli 2022 - 21:18:01 WIB
Flick Review : Ivanna
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 169 kali


Bertambah lagi film yang bergabung dalam semesta Danur. Selepas tiga film utama (akan menyusul yang keempat) dan dua film untuk sempalan Asih, kini ada Ivanna sebagai variasi baru. Sebagaimana para pendahulunya, film juga diangkat dari novel tulisan Risa Saraswati, yaitu Meruntih Berang Ivanna Van Dijk.

Cukup mengejutkan karena ternyata MD Pictures/Pichouse Films memilih sutradara selain Awi Suryadi (atau Rizal Mantovani) untuk menggarap Ivanna. Yang dipilih juga tidak main-main, yaitu Kimo Stamboel, yang bersama Timo Tjahjanto di bawan naungan Mo Brothers telah menghasilkan film-film seru seperti Rumah Dara (2010) atau Headshot (2016).

Ivanna menjadi catatan tersendiri bagi Kimo karena adalah film solo ketiga dirinya, menyusul DreadOut dan Ratu Ilmu Hitam (keduanya tayang di tahun 2019). Jejak rekam aksi solo Kimo sejauh ini adalah hit-and-miss, meski bisa dipastikan kalau secara teknis, baik dalam kelancaran dalam bertutur ataupun production values, ia jelas berada di atas Awi dan Rizal.

Setelah sempat muncul sekilas dalam Danur 2: Maddah (2018), Ivanna van Dijk (kali ini diperankan Sonia Alyssa) menjadi fokus utama. Sang noni Beladan dengan latar belakang hidup yang menyedihkan adalah basis dalam kengerian Ivanna ini.

Sebagaimana film-film semesta Danur, secara cerita Ivanna sederhana saja. Berlatar tahun 1993 tepat sebelum Lebaran, kakak-beradik Ambar (Caitlin Halderman) dan Dika (Jovarel Callum) mengunjungi sebuah panti wreda di kawasan pedesaan yang diasuh oleh teman mendiang orang tua mereka.

Di sana hanya ada pengurus panti, Agus (Shandy William) dan Rina (Taskya Namya), serta tiga penghuni tersisa, Oma Ida (Rinna Hassim), Nenek Ani dan Kakek Farid (Yayu Unru). Tiba juga cucu Oma Ida, Arthur (Junior Robert) untuk meramaikan suasana.

Secara kebetulan Ambar menemukan sebuah patung tanpa kepala di rubanah dan selepasnya teror mengerikan menerpa rumah panti dan disusul dengan kematian tragis yang menimpa mereka satu demi satu.

Jika ditilik, formula usungan Ivanna adalah perpaduan antara rumah berhantu dengan slasher penuh darah. Tidak heran jika pilihan jatuh ke tangan Kimo untuk menggarapnya karena sudah cukup berpengalaman dengan dua sub-genre tersebut. Setidaknya bisa dibuktikan melalui Ratu Ilmu Hitam.

Secara struktur cerita, Ivanna memang mengingatkan akan Ratu Ilmu Hitam karena memiliki pendekatan alur yang sama; pengenalan karakter, pembangunan atmosfer seram dan kemudian ditutup dengan klimaks penuh aksi. Apalagi seting-nya juga setipe, terbatas hanya di satu lokasi saja.

Kimo patut dipuji karena menyajikan Ivanna dengan sinematografi yang atraktif serta memanjakan mata. Set-up untuk teror dan kengerian dibangun dengan baik, meski sayangnya tidak semua bisa tersampaikan dengan efektif.

Keterbatasan Ivanna utamanya terletak pada naskah. Penulisan oleh Lele Laila (seri DanurKKN Di Desa Penari) terkesan hanya mengulur-ulur tanpa esensi yang esensial dalam pergerakan alurnya. Tidak ada urgensi nyata untuk membuat alur menjadi lebih dinamis. Berjalan dalam mode auto-pilot dan tertebak.

Naskah terkesan curang dengan insert adegan kilas balik yang terlalu mendominasi. Barisan eksposisi dalam film pun hadir secara repetitif karena hanya mengulang-ulang informasi alih-alih dengan efisien langsung pada intinya.

Beberapa sub-plot diperkenalkan namun tidak mendapat konklusi secara proporsional sehingga pada ujungnya hanya membuat penceritaan menjadi bertele-tele. Terkesan ada hanya untuk memanjang-manjangkan durasi.

Diperparah dengan karakterisasi sekedarnya saja, karena naskah memang berniat untuk menjadikan sebagian besar dari mereka sebagai alat untuk penggerak plot ketimbang hadir secara utuh.

Walhasil, dua babak pertama Ivanna menjadi menjemukan karena terasa monoton. Untunglah babak akhir yang hadir dengan cukup mendebarkan bisa untuk menjadi penawarnya.

Tentu saja pujian harus disematkan kepada kinerja Kimo yang mampu mengeksekusi adegan-adegan dengan intensitas tinggi secara baik. Meski film tetap didera berbagai kekurangan, setidaknya berkat garapannya Ivanna bisa hadir dengan setingkat lebih baik dan jauh lebih mengesankan dibandingkan jejeran film semesta Danur terdahulu.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.