Review

Info
Studio : Netflix
Genre : Horror, Thriller
Director : David Blue Garcia
Producer : Fede Álvarez, Herbert W. Gains, Kim Henkel, Ian Henkel, Pat Cassidy
Starring : Sarah Yarkin, Elsie Fisher, Mark Burnham, Moe Dunford, Nell Hudson, Olwen Fouéré, Jacob Latimore,

Selasa, 22 Februari 2022 - 23:34:25 WIB
Flick Review : Texas Chainsaw Massacre
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 314 kali


Menyusul Halloween (2018), Candyman (2021), dan Scream (2022), Texas Chainsaw Massacre (TCM) pun mengikuti tradisi “requel” (reboot + sequel) yang sedang nge-trend. Film kesembilan dari franchise yang dimulai semenjak The Texas Chain Saw Massacre (1974) mengklaim sebagai kelanjutan langsung dari film tersebut, yang berarti alur cerita dalam film-film TCM sebelumnya tidak dianggap lagi.

Bukan hal aneh, karena sekuel langsung, selain juga rebootremake, dan prekuel, memang adalah bagian dari franchise TCM. Kali ini penggarapan film jatuh ke tangan David Blue Garcia, nama yang mungkin masih asing untuk sebagian besar dari kita. Namun, nama-nama di belakangnya cukup menjanjikan, yaitu duo Fede Álvarez dan Rodo Sayagues yang beken berkat Evil Dead dan Don’t Breathe.

Dikisahkan, setelah hampir 50 tahun berlalu semenjak peristiwa berdarah di film pertamanya, sepasang kakak-adik asal San Fransisco bernama Melody (Sarah Yarkin) dan Lila (Isla Fisher) mengunjungi sebuah kota mati di pedalaman Texas bernama Harlow.

Melody bersama rekan bisnisnya, Dante (Jacob Latimore), berniat untuk melakukan gentrifikasi kota tersebut dan menjadikannya sebagai kawasan wisata. Turut juga bersama mereka adalah kekasih Dante, Ruth (Nell Hudson).

Mengira jika kota sudah tidak berpenghuni, betapa kagetnya mereka saat menemui seorang perempuan tua pengelola panti asuhan bernama Ginny (Alice Krige) di dalamnya. Sebuah insiden menyebabkan salah satu anak asuh Ginny, yang kemudian kita sadari adalah Leatherface (Mark Burnham), kembali mengangkat gergaji mesinnya dan memulai pembantaian baru.

Sementara itu, korban yang selamat di insiden tahun 1973, Sally Hardesty (kini diperankan Olwen Fouéré), masih memendam dendam kepada Leatherface. Saat mengetahui jika “incarannya” kembali beraksi, maka ia pun memiliki rencananya sendiri.

Dengan durasi sekitar 81 menit, Texas Chainsaw Massacre adalah film yang efisien. Tidak perlu waktu lama bagi film untuk memulai adegan aksi-nya dan tidak pernah kendor semenjak itu.

Adegan pembantaian yang dilakukan Leatherface kepada para korbannya sebagian besar boleh dikatakan cukup “memuaskan,” setidaknya dalam konteks sebuah film slasher. Jika indikasi keberhasilan sebuah slasher tentang eksekusi adegan pembunuhan yang “menghibur,” maka Texas Chainsaw Massacre memenuhi kriteria tersebut.

David Blue Garcia cukup telaten dalam departemen ini, meski rasa-rasanya masih perlu belajar lebih banyak lagi dalam menghadirkan suspensi yang lebih terjaga. Seru belaka tapi tanpa cengkraman rasa mencekam sama halnya dengan sayur tanpa garam alias hambar.

Sesuai judulnya, “gergaji mesin” dan “pembantaian” menjadi sorotan utama, walau sisi “Texas” itu sendiri kurang tergali. Texas Chainsaw Massacre versi mutakhir ini hadir sebagai sebagai sebuah slasher yang langsung pada sasarannya, namun terlalu sederhana.

Texas Chainsaw Massacre tidak pernah sesederhana itu. Bahkan film yang paling buruk sekalipun selalu menjadi semacam studi atau komentar sosial dengan asupan psikologis kuat. Ada alasan mengapa di film-film sebelumnya Leatherface bukan satu-satunya antagonis.

Ia selalu berada dalam lingkar tertentu, yang sebagian besar adalah keluarganya. Ada sesuatu yang bernuansa kultus dalam motivasi dan aksi keluarga Sawyer di mana dibesarkan. Sebagai sosok yang digambarkan memiliki kekurangan secara mental, setiap tindakan Leatherface adalah hasil instruksi keluarganya alih-alih digerakkan oleh keinginannya sendiri.

Berbeda dengan Leatherface versi Texas Chainsaw Massacre yang bertindak secara solo. Memang ada karakter seperti Ginny yang bertindak sebagai semacam katalis untuk aksi-reaksinya, sehingga ada sisi simpatik dari pemantik pembantaian yang dilakukannya. Hanya saja terasa sekedar tempelan ketimbang organis.

Begitu juga dengan berbagai ornamen plot lain yang disajikan dalam film, seperti tentang krisis senjata api yang menjadi latar kelam untuk Lila, gentrifikasi, prasangka dan streotipe, hingga aksi balas dendam Sally Hardesty tadi. Sayangnya, semua hanya dihadirkan sekedar sambil-lalu karena hidangan utama memang aksi teror Leatherface itu sendiri.

Naskah tulisan Chris Thomas Devlin boleh dikatakan buruk. Terlalu banyak adegan “dungu” berkat pilihan tindakan para karakternya yang di luar nalar. Kehadiran karakter orisinal seperti Sally sendiri sulit menghindari kesan jika film ini “meniru” Halloween versi 2018, karena memiliki “tema” yang sama, meski tidak dibarengi dengan eksekusi yang setara secara kualitas.

Ujung-ujungnya, Texas Chainsaw Massacre versi mutakhir ini pada hakekatnya adalah “pamer” kekuatan sang Leatherface. Penonton seperti diposisikan untuk bersorak pada aksi pembantainnya ketimbang peduli pada karakter-karakter (calon) korbannya. Inilah yang membuat Leatherface menjadi semacam versi generik untuk Jason Voorhees dari seri Friday The 13th – sesuatu yang juga dialami Michael Myers dalam Halloween Kills (2021) – ketimbang hadir melalui karakteristik uniknya sendiri.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.