Review

Info
Studio : Closest to the Hole Productions
Genre : Comedy, Drama
Director : Sean Anders
Producer : Sean Anders, Stephen Levinson, John Morris, Mark Wahlberg
Starring : Mark Wahlberg, Rose Byrne, Isabela Moner, Octavia Spencer, Tig Notaro, Margo Martindale

Minggu, 27 Januari 2019 - 21:12:58 WIB
Flick Review : Instant Family
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 312 kali


Merupakan kali ketiga Mark Wahlberg berada dibawah arahan sutradara Sean Anders setelah Daddy’s Home (2015) dan Daddy’s Home Two (2017), Instant Family berkisah mengenai perjalanan hidup pasangan Pete (Wahlberg) dan Ellie Wagner (Rose Byrne) setelah keduanya memutuskan untuk menjadi orangtua asuh bagi tiga bersaudara, Lizzie (Isabela Moner), Juan (Gustavo Quiroz), dan Lita (Julianna Gamiz). Sebagai pasangan yang awalnya hanya memberikan fokus kehidupan pada bisnis yang mereka bangun, kehadiran tiga orang anak dalam keseharian mereka jelas memberikan sebuah warna baru. Bukan sebuah proses adaptasi yang mudah. Selain karena Lizzie, Juan, dan Lita memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain, latar belakang ketiganya yang hadir dengan catatan masa lalu yang kelam juga membuat Pete dan Ellie Wagner sering mendapatkan kesulitan untuk mendekati ketiga anak tersebut. Beruntung, Pete dan Ellie Wagner mendapatkan bimbingan dari dua orang pekerja sosial, Karen (Octavia Spencer) dan Sharon (Tig Notaro). Secara perlahan, Pete dan Ellie Wagner mulai memahami bagaimana cara yang tepat untuk menjadi pasangan orangtua bagi Lizzie, Juan, dan Lita sekaligus merebut hati dan perhatian ketiganya. 

Proses pengasuhan hingga pangadopsian anak jelas bukanlah sebuah problema yang cukup sederhana untuk dijabarkan. Naskah garapan Anders dan John Morris cukup memahami hal tersebut. Meskipun disajikan dalam ritme penceritaan komedi, Instant Family secara perlahan menyelami seluk beluk proses pengadopsian anak, menyinggung isu sosial mengenai kondisi anak-anak terlantar yang membutuhkan perhatian lebih banyak orang dewasa, tahapan konseling yang harus dilalui sebelum dan sesudah proses pengadopsian anak dilakukan, hingga, tentu saja, berbagai konflik yang muncul selama orangtua dan anak yang diasuh beradaptasi atas kehadiran satu sama lain dalam kehidupan baru mereka. Cukup berhasil. Anders memang tidak pernah berhasil benar-benar menghadirkan pemaparan menyeluruh mengenai problema yang ingin diceritakannya. Namun, tidak dapat dipungkiri, Anders setidaknya dapat membuat para penonton filmnya memahami dasar masalah yang menjadi tema utama dari Instant Family.

Yang juga menjadi kunci keberhasilan penceritaan film ini adalah karakter-karakter dalam linimasa pengisahannya yang dihadirkan begitu membumi. Anders dan Morris tidak pernah berusaha untuk menjadikan karakter-karakter seperti Pete dan Ellie Wagner maupun para pekerja sosial yang membantu mereka, Karen dan Sharon, sebagai sosok pahlawan bagi para anak-anak terlantar yang kemudian mereka asuh. Hal yang sama juga dapat dirasakan pada karakter anak-anak yang tergambar dengan segala karakterisasi dan permasalahan hidup mereka. Deretan karakter manusiawi yang jelas akan mampu membentuk jalinan emosional yang kuat dengan penonton. Memang, berlarutnya gambaran akan permasalahan yang harus dihadapi oleh pasangan Pete dan Ellie Wagner atas deretan konflik yang ditimbulkan oleh karakter Juan, Lita, dan, khususnya, Lizzie, pada paruh pertengahan film membuat ritme pengarahan Anders menjadi sedikit terhambat dan cenderung bertele-tele. Tetap saja, karakterisasi yang berhasil dibangun dengan utuh menjadi elemen yang tidak dapat terpisahkan dari keberhasilan Instant Family untuk terus tampil mengikat dan bahkan seringkali terasa menyentuh.

Deretan karakter yang begitu mudah disukai tersebut juga sangat berhasil dihidupkan dengan baik oleh para pengisi departemen akting film ini. Wahlberg dan Byrne hadir dengan chemistry yang sangat meyakinkan sebagai pasangan orangtua yang berdedikasi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik pada anak-anak asuh mereka. Ketiga pemain muda film ini, Moner – yang sebelumnya tampil bersama Wahlberg dalam Transformers: The Last Knight (Michael Bay, 2017), Quiroz, dan Gamiz, juga memberikan penampilan yang sama meyakinkan dan mengimbangi para pemeran dewasa yang berada di sekitar mereka. Jajaran pemeran pendukung film ini, mulai dari Spencer, Notaro, Margo Martindale, Iliza Shlesinger, hingga Joan Cusack – yang tanpa disangka muncul pada paruh akhir penceritaan film, tampil apik dan memberikan sokongan kuat pada kualitas komedi yang ditampilkan Instant Family.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.