Review

Info
Studio : 20th Century Fox/Working Title Films/Big Talk Productions
Genre : Adventure, Family, Fantasy
Director : Joe Cornish
Producer : Nira Park, Tim Bevan, Eric Fellner
Starring : Louis Ashbourne Serkis, Tom Taylor, Rebecca Ferguson, Angus Imrie, Patrick Stewart

Jumat, 25 Januari 2019 - 19:55:32 WIB
Flick Review : The Kid Who Would Be King
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 228 kali


Well… tidak terlalu lama semenjak perilisan King Arthur (Antoine Fuqua, 2004) dan King Arthur: Legend of the Sword (Guy Ritchie, 2017), Hollywood kembali menghadirkan kisah mengenai King Arthur dan pedang legendarisnya, Excalibur, lewat film terbaru arahan Joe Cornish (Attack of the Block, 2011), The Kid Who Would Be King. Berbeda dengan film arahan Fuqua dan Ritchie, kisah hidup King Arthur hanya dijadikan inspirasi bagi linimasa penceritaan The Kid Who Would Be King yang kemudian berfokus pada petualangan sekelompok anak-anak yang melakukan perjalanan ke tanah kelahiran King Arthur guna menyelamatkan dunia dari sosok jahat yang berasal dari masa lalu dan berniat untuk kembali menguasai dunia. Formula ceritanya mungkin terasa bagai paduan antara legenda King Arthur dengan kisah petualangan yang telah dihadirkan Cornish sebelumnya lewat Attack of the Block. Namun, dengan pengarahan dan penggarapan naskah yang efektif, Cornish mampu memberikan sentuhan menyegarkan atas legenda King Arthur – yang mungkin merupakan salah satu kisah paling familiar bagi kebanyakan umat manusia yang ada di permukaan Bumi – dan menghadirkan sebuah sajian film keluarga yang cukup menyenangkan untuk diikuti. 

The Kid Who Would Be King memulai petualangannya ketika seorang anak bernama Alex Elliot (Louis Ashbourne Serkis) menemukan sebuah pedang yang merupakan perwujudan dari Excalibur milik King Arthur. Tentu saja, Alex Elliott dan sahabatnya, Bedders (Dean Chaumoo), tidak begitu saja percaya bahwa kepingan besi yang mereka temukan merupakan sebuah benda bersejarah yang memiliki kekuatan magis. Keadaan kemudian berubah ketika seorang anak bernama Mertin (Angus Imrie) yang mengaku sebagai penjelmaan dari penyihir Merlin (Patrick Stewart) datang dan mengungkapkan bahwa Alex Elliot telah menjadi sosok terpilih untuk meneruskan tugas dan tanggungjawab yang dahulu pernah diemban King Arthur. Sial, penemuan Excalibur tersebut turut membangkitkan jiwa Morgana (Rebecca Ferguson) yang merupakan adik tiri dari King Arthur dan juga seorang penyihir jahat yang dahulu pernah dihukum oleh King Arthur karena telah berniat untuk merebut Excalibur. Dengan bimbingan Mertin/Merlin, Alex Elliot dan Bedders kini harus berpacu dengan waktu guna mencegah Morgana untuk merebut Excalibur sekaligus menguasai dunia bersama pasukannya.

Seperti halnya Attack of the Block, Cornish tidak menjadikan The Kid Who Would Be King hanya sebagai sebuah film petualangan semata. Lewat naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Cornish memberikan sudut pandang mengenai bagaimana kondisi sosial (dan politik) dunia – Inggris, khususnya – yang terasa semakin terpecah dengan kekacauan sering terjadi di berbagai tempat. Kondisi tersebut yang kemudian dijadikan Cornish sebagai latar belakang mengapa sosok jahat seperti karakter Morgana dapat bangkit kembali. Tidak mengherankan jika kemudian tema pengisahan maupun deretan dialog yang menyinggung bagaimana persatuan tanpa memandang berbagai perbedaan yang ada dapat menjadi sebuah kekuatan dirasakan mengalir di berbagai bagian penceritaan film ini. Sebuah metafora yang cukup representatif akan kehidupan era sekarang meskipun Cornish terasa kurang mampu untuk mengemasnya dengan baik dan sering menempatkan pesan-pesan tersebut dengan cara yang terlalu gamblang.

Jangan lantas mengira The Kid Who Would Be King akan menjadi sebuah presentasi yang membosankan. Cornish tetap menjadikan petualangan sebagai identitas utama bagi film ini dengan menghadirkan cukup banyak tantangan bernuansa magis yang harus dihadapi oleh karakter-karakter dalam filmnya. Elemen komedi yang dihadirkan Cornish melalui dialog interaksi antara setiap karakter juga harus diakui mampu menjadi sentuhan yang membuat The Kid Who Would Be King tampil begitu menyenangkan. Di saat yang bersamaan, tidak dapat disangkal film ini secara perlahan mulai kehilangan daya tariknya ketika Cornish memilih untuk menampilkan pengisahannya dalam durasi yang terlalu lama dengan ritme yang cenderung bertele-tele – hal yang dapat begitu dirasakan khususnya pada paruh akhir The Kid Who Would Be King. Bukan sebuah problema besar namun tetap saja membuat film ini terasa gagal untuk berakhir dengan kesan yang lebih mendalam.

Hal terbaik dari film ini jelas berasal dari penampilan para pengisi departemen aktingnya yang diisi oleh deretan pemeran muda yang mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dengan meyakinkan. Serkis dan Chaumoo menampilkan chemistry persahabatan yang begitu hangat. Begitu pula dengan Tom Taylor dan Rhianna Doris yang berperan sebagai Lance dan Kaye yang awalnya tampil sebagai sosok antagonis namun secara perlahan berubah menjadi sahabat bagi karakter Alex Elliot. Namun, jelas penampilan komikal Imrie yang selalu mencuri perhatian pada setiap kehadirannya. Imrie menjadikan sosok karakter Mertin begitu kuat sekaligus jenaka. Dua aktor dengan jam terbang yang lebih kaliber, Stewart dan Ferguson, tampil dalam kapasitas terbatas dengan karakter yang sebenarnya tidak terlalu berhasil dieksplorasi dengan baik namun tetap mampu disajikan secara tidak mengecewakan.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.