Review

Info
Studio : Legendary Pictures/Flynn Picture Company/Seven Bucks Productions
Genre : Action, Crime, Drama
Director : Rawson Marshall Thurber
Producer : Beau Flynn, Dwayne Johnson, Hiram Garcia, Rawson Marshall Thurber
Starring : Dwayne Johnson, Neve Campbell, Chin Han, Roland Møller, Pablo Schreiber

Minggu, 15 Juli 2018 - 14:35:54 WIB
Flick Review : Skyscraper
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 545 kali


Skyscraper adalah sebuah film drama aksi terbaru yang dibintangi oleh Dwayne Johnson. Deskripsi tersebut sepertinya telah cukup untuk membuat banyak orang dapat membayangkan bagaimana pengisahan Skyscraper akan berjalan. Ummm… masih membutuhkan deskripsi singkat mengenai jalan cerita film ini? Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Rawson Marshall Thurber – yang sebelumnya mengarahkan Johnson dalam Central Intelligence (2016) – Skyscraper berkisah mengenai seorang mantan tentara bernama Will Sawyer (Johnson) yang bersama istri, Sarah Sawyer (Neve Campbell), dan kedua anaknya, Georgia Sawyer (McKenna Roberts) dan Henry Sawyer (Noah Cottrell), sedang berada di Hong Kong setelah Will Sawyer mendapatkan pekerjaan untuk melakukan supervisi terhadap sistem keamanan sebuah gedung pencakar langit yang telah dibangun oleh milyuner Zhao Long Ji (Chin Han). Pekerjaan tersebut awalnya berjalan dengan lancar. Namun, sebuah tindakan pengkhianatan yang melibatkan sosok mafia besar di Hong Kong kemudian menghancurkan seluruh hasil kerja Zhao Long Ji dan Will Sawyer – sekaligus menjebak seluruh anggota keluarga Will Sawyer dalam kebakaran besar yang dapat mengancam nyawa mereka. 

Sederhana, bukan? Seperti kebanyakan film-film aksi yang dibintangi Johnson, Skyscraper juga merupakan sebuah film aksi yang memberikan penekanan pada kehadiran adegan-adegan aksi bombastis, pertarungan sengit antara karakter protagonis dengan para antagonis, dan, tentu saja, deretan tindakan heroik yang dilakukan oleh karakter yang diperankan oleh Johnson – yang seringkali terasa melawan logika maupun berbagai perhitungan ilmiah – dalam usahanya untuk menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi. Tentu, naskah cerita garapan Thurber yang mungkin akan mengingatkan banyak penonton pada The Towering Inferno (John Guillermin, 1974) maupun Die Hard (John McTiernan, 1988) memiliki struktur pengisahan yang berisi paduan konflik maupun karakter familiar (baca: klise) yang seringkali ditemukan pada film-film sejenis. Namun, jelas tidak dapat dipungkiri bahwa Thurber mampu menghadirkan sajian hiburan yang begitu mengikat pada presentasinya untuk Skyscraper.

Elemen terkuat dari Skyscraper adalah keberhasilan Thurber untuk menghadirkan barisan pemeran yang kuat untuk menghidupkan karakter-karakter di dalam jalan cerita filmnya. Terlepas dari klise maupun sederhananya gambaran karakter-karakter tersebut, Thurber mampu mendapatkan penampilan terbaik dari para pengisi departemen aktingnya. Johnson, seperti biasa, hadir dengan kharisma dan penampilan seorang bintang film aksi yang maksimal. Begitu pula  dengan Han, Roland Møller yang berperan sebagai salah satu karakter antagonis, dan Pablo Schreiber yang berperan sebagai sahabat bagi karakter Will Sawyer. Namun, jelas penampilan Campbell sebagai istri dari karakter Will Sawyer yang hadir begitu mencuri perhatian. Campbell, yang mungkin selamanya akan terikat dengan penampilan ikoniknya sebagai Sidney Prescott dari seri film Scream (1996 – 2011), tidak hanya menjadikan karakter Sarah Sawyer sebagai karakter pendamping bagi sang karakter utama. Meskipun dengan ruang pengisahan yang terbatas, Campbell menjadikan karakter Sarah Sawyer menjadi sosok perempuan yang tangguh dan beberapa kali hadir dengan adegan aksi yang kuat. Sebuah pertunjukan yang harusnya mampu membujuk Hollywood untuk memberikan lebih banyak peran bagi Campbell di masa yang akan datang.

Thurber juga sukses mengemas filmnya dengan balutan departemen produksi yang berkualitas tinggi. Sebagai sebuah film yang menjanjikan ketegangan yang berasal dari sebuah tragedi yang terjadi di sebuah gedung peencakar langit, Thurber mengisi adegan-adegan filmnya dengan banyak gambar arahan sinematografer legendaris Robert Elswit yang mampu membangun atmosfer ketegangan tersebut dengan sempurna. Beberapa adegan yang melibatkan wilayah-wilayah ketinggian juga berhasil disajikan untuk memberikan ketakutan bagi para penonton, terlebih bagi mereka yang memang memiliki fobia pada ketinggian itu sendiri. Arahan Thurber untuk penceritaan Skyscraper juga tampil  tidak mengecewakan. Semenjak film ini dimulai, Thurber menjaga ritme pengisahan filmnya untuk terus bergerak secara dinamis dan lugas dalam berkisah. Hasilnya, terlepas dari pandangan klise yang didapatkan dari kualitas penulisan naskah cerita film ini, Skyscraper tetap mampu hadir sebagai sebuah sajian hiburan yang bekerja secara efektif di sepanjang 102 menit presentasinya. Not bad.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.