Review

Info
Studio : Black Label Media/Thunder Road Pictures
Genre : Action, Crime, Drama
Director : Stefano Sollima
Producer : Basil Iwanyk, Edward L. McDonnell, Molly Smith, Thad Luckinbill, Trent Luckinbill
Starring : Benicio del Toro, Josh Brolin, Isabela Moner, Jeffrey Donovan, Catherine Keener

Senin, 09 Juli 2018 - 21:13:43 WIB
Flick Review : Sicario: Day of the Soldado
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 402 kali


Merupakan sekuel dari Sicario arahan Denis Villeneuve yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun secara komersial ketika dirilis pada tahun 2015 yang lalu, Sicario: Day of the Soldado kini memberikan fokus yang penuh pada karakter agen rahasia Alejandro Gillick yang diperankan oleh Benicio del Toro. Dikisahkan, setelah terjadinya sebuah peristiwa bom bunuh diri di sebuah supermarket, pemerintah Amerika Serikat memberikan kuasa penuh bagi Central Intelligence Agency untuk memerangi kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko yang diduga turut menyelundupkan teroris ke wilayah Amerika Serikat dalam setiap operasi mereka. Bekerjasama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, agen Matt Graver (Josh Brolin) lantas berencana untuk menimbulkan konflik antara para kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko dengan tujuan agar mereka saling memerangi satu sama lain. Matt Graver lantas merekrut agen rahasia Alejandro Gillick (del Toro) untuk menculik puteri salah seorang pimpinan kartel paling berpengaruh, Isabela Reyes (Isabela Moner), dan merancang agar pertistiwa tersebut terlihat seperti dilakukan oleh kelompok kartel saingan. Rencana tersebut awalnya berjalan lancar. Sial, dalam perjalanannya, konflik justru semakin melebar dan membuat pihak militer Amerika Serikat harus berhadapan dengan pihak kepolisian Meksiko. 

Sohere’s the thing. Kesuksesan Sicario jelas tidak dapat dipungkiri berhasil tercapai berkat kekuatan pengarahan Villeneuve yang berpadu dengan penampilan akting prima dari jajaran pemeran filmnya – khususnya Emily Blunt – serta dukungan kualitas produksi film yang sangat berkelas – khususnya tata musik garapan Jóhann Jóhannsson dan tata sinematografi yang dihasilkan Roger Deakins yang bahkan berhasil memberikan keduanya nominasi Academy Awards. Sicario: Day of the Soldado, sayangnya, tidak memiliki seluruh elemen penunjang kesuksesan film pendahulunya tersebut – baik arahan Villeneuve, penampilan dari Blunt, iringan musik dari Jóhannsson, maupun gambar-gambar indah yang dihasilkan Deakins. Tentu, naskah cerita Sicario: Day of the Soldado masih dituliskan oleh Taylor Sheridan. Namun, apakah Sicario: Day of the Soldado mampu meraih kesuksesan artistik yang sama ketika cerita garapan Sheridan kini ditangani oleh Stefano Sollima? – yang melakukan debut pengarahan film berbahasa Inggris-nya melalui film ini.

Sollima harus diakui memiliki kemampuan yang cukup mumpuni untuk mengarahkan materi cerita dengan kandungan intrik politik dan aksi yang dominan. Sutradara berkewarganegaraan Italia tersebut berhasil menjaga dengan baik setiap bangunan konflik yang ingin dijabarkan Sheridan melalui naskah ceritanya. Ritme yang terasa perlahan namun terus mengikat tersebut secara pasti kemudian dibawa Sollima untuk mencapai titik-titik ketegangan yang dapat dipastikan akan membuat setiap penonton Sicario: Day of the Soldado berpegangan erat di kursi mereka. Sollima juga tidak segan-segan dalam merangkai dan menggarap adegan-adegan bernuansa sadis dan penuh simbahan darah untuk mengisi penceritaan filmnya. Adegan-adegan tersebut berhasil digarap dan dimanfaatkan untuk memperkaya sentuhan sifat nyata yang diemban oleh film ini.

Di saat yang bersamaan, untuk sekuel dari sebuah film yang hadir dengan kualitas penceritaan yang kompleks dan dipenuhi berbagai konflik yang tersusun secara padat, naskah cerita Sheridan untuk Sicario: Day of the Soldado harus diakui tampil dalam tingkatan kualitas yang lebih minimalis. Dengan melibatkan tema-tema seperti imigran gelap, perdagangan manusia, terorisme, hingga penjagaan batas wilayah Amerika Serikat, Sheridan jelas mendapatkan inspirasi pengisahannya dari berbagai isu sosial dan politik yang memang sedang hangat di pemerintahan negara tersebut. Sayangnya, konflik demi konflik yang dihadirkan Sheridan terasa tampil terlalu sederhana dan sama sekali tidak pernah berniat untuk mengeksplorasinya dengan lebih mendalam.

Hal yang sama juga dapat dirasakan pada penggarapan Sheridan untuk karakter-karakter yang hadir di film ini. Tak ada satupun karakter yang berhasil tampil mengikat perhatian penonton. Karakter Alejandro Gillick, Matt Graver, Isabela Reyes, dan Cynthia Foards (Catherine Keener) memang hadir sebagai karakter-karakter yang menarik berkat penampilan akting para pemerannya. Namun, jika dirunut dari karakterisrik yang dituliskan Sheridan untuk karakter-karakter tersebut, karakter-karakter dalam pengisahan Sicario: Day of the Soldado begitu mudah untuk dilupakan begitu saja. Dengan film-film seperti Sicario, Hell or High Water (David Mackenzie, 2016), dan Wind River (2017) yang sekaligus menjadi debut pengarahannya, lumayan sulit untuk mempercayai bahwa naskah cerita dangkal Sicario: Day of the Soldado dapat datang dari tangan seorang Sheridan.

Namun apakah seluruh “penurunan kualitas” tersebut membuat Sicario: Day of the Soldado menjadi tidak layak tonton? Tidak juga. Setidaknya Anda masih dapat menjadi saksi bagaimana kemampuan Sollima dalam menggarap dan mengemas intensitas cerita yang menjadi elemen paling krusial dalam presentasi film ini bersama dengan penampilan para pengisi departemen akting. Dan meskipun tidak hadir semegah maupun seistimewa tata musik dan tata sinematografi arahan Jóhannsson dan Deakins, tata musik garapan Hildur Guðnadóttir masih efektif untuk memberikan banyak tambahan energi dalam setiap adegan Sicario: Day of the Soldado sementara sinematografi arahan Dariusz Wolski cukup berhasil membuat penonton merasakan atmosfer kerasnya suasana lingkungan dan latar belakang pengisahan film ini. Setidaknya elemen-elemen tersebut akan mampu menghibur sebelum Sicario: Day of the Soldado akhirnya menghilang dengan cepat dari ingatan beberapa saat setelah jalan pengisahan film ini berakhir.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.