Review

Info
Studio : Allegiance Theater/2929 Productions
Genre : Comedy, Drama
Director : Ben Lewin
Producer : Lara Alameddine, Daniel Dubiecki
Starring : Dakota Fanning, Toni Collette, Alice Eve, River Alexander, Marla Gibbs, Jessica Rothe

Kamis, 03 Mei 2018 - 18:03:06 WIB
Flick Review : Please Stand By
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 454 kali


Setelah keberhasilannya dalam mengarahkan The Sessions (2012) – yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial namun juga memberikan sebuah nominasi Academy Awards di kategori Best Actress in a Supporting Role untuk Helen Hunt pada ajang The 85th Annual Academy Awards, sutradara asal Australia, Ben Lewin, kini merilis film terbarunya yang berjudul Please Stand By. Hampir serupa dengan The Sessions yang berkisah tentang kehidupan seorang penderita penyakit polio dalam interaksi kesehariannya, Lewin juga menjadikan Please Stand By sebagai media penggambarannya mengenai jalinan rumit keseharian seorang penderita Sindrom Asperger untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Diberkahi oleh penampilan gemilang dari Dakota Fanning, Please Stand By mampu menyajikan banyak momen menyentuh yang dipastikan dapat membuat para penontonnya terhanyut meskipun beberapa kali terjebak dalam tata cara pengisahan yang cenderung terlalu familiar.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Michael Golamco, Please Stand By berkisah mengenai hubungan persaudaraan antara Audrey (Alice Eve) dan Wendy (Fanning) yang berjalan merenggang setelah meninggalnya ibu mereka dan seiring dengan bertambah dewasanya kedua gadis tersebut. Audrey yang baru saja melahirkan anak pertama dari pernikahannya dan merasa tidak sanggup lagi untuk merawat Wendy yang menderita Sindrom Asperger serta seringkali tidak dapat mengontrol emosinya lantas menitipkan Wendy ke seorang pengasuh, Scottie (Toni Collette), yang memang bertugas untuk menjaga para penderita Sindrom Asperger. Kondisi tersebut berjalan lancar. Dalam asuhan Scottie, Wendy tumbuh menjadi sosok yang lebih tenang dan teratur dalam menjalani kesehariannya. Masalah kemudian muncul ketika Wendy – yang begitu terobsesi dengan serial televisi Star Trek – lantas berusaha mengikuti sebuah kompetisi menulis naskah cerita Star Trek dengan mengirimkan naskah cerita yang telah dituliskannya langsung ke Paramount Pictures yang berada di luar kota. Jelas saja kepergian Wendy yang secara tiba-tiba membuat Scottie dan Audrey panik luar biasa.

Melirik dari struktur pengisahannya, Please Stand By sebenarnya tidak menawarkan sebuah struktur pengisahan yang benar-benar baru pada presentasi ceritanya. Kisah mengenai sosok “orang luar” yang berusaha untuk menemukan tempat sekaligus menunjukkan kemampuan diri pada lingkungan sekitarnya disusun Golamco dalam susunan pengisahan yang sederhana dan cenderung mengikuti pakem film-film dengan pola penceritaan serupa yang pernah diproduksi Hollywood sebelumnya. Naskah cerita tersebut juga tidak sepenuhnya mampu dikembangkan dengan baik. Meskipun tampil dengan kualitas penulisan dialog yang cukup prima – yang seringkali mengandung unsur komedi dan mampu menghasilkan senyum di wajah para penontonnya, beberaoa konflik dalam pengisahan Please Stand By tidak berhasil dikembangkan dengan lebih baik. Banyak konflik yang terasa dihadirkan hanya untuk mengisi atau mewarnai lembaran pengisahan sang karakter utama tanpa pernah diberikan pendalaman yang lebih baik.

Terlepas dari kelemahan yang terdapat pada beberapa elemen pengisahannya, Lewin mampu menghadirkan Please Stand By dengan ritme pengisahan yang tepat. Nuansa drama yang berbaur dengan komedi yang terdapat pada naskah cerita film ini mampu disajikan arah yang tepat – Please Stand By tidak pernah terasa tampil terlalu melodramatis dalam mengeksplorasi perjuangan sang karakter utama dan di saat yang bersamaan juga tidak pernah terasa terlalu kaku untuk dapat memberikan penontonnya banyak momen-momen yang begitu menyentuh. Kualitas produksi yang tampil menonjol mulai dari tata musik arahan Heitor Pereira hingga tata sinematografi garapan Geoffrey Simpson juga turut membalut presentasi keseluruhan film ini.

Namun, kualitas Please Stand By jelas disokong penuh oleh penampilan kuat yang diberikan Fanning. Jelas bukan sebuah kejutan besar untuk mendengar bahwa Fanning memberikan penampilan akting yang fantastis – she’s one of the best actress of her generation. Namun, penampilan Fanning jelas menjadi nyawa sekaligus jiwa utama bagi Please Stand By. Fanning menjadikan sosok Wendy sebagai sosok karakter yang terasa begitu rapuh namun juga sangat kuat di saat yang bersamaan. Penonton akan dengan mudah merasa jatuh hati pada karakternya, merasa terikat dengan setiap langkah maupun keputusan yang diambil oleh karakternya, dan turut menyelami setiap lautan emosi yang harus dilalui oleh  karakter tersebut. Jelas salah satu penampilan terbaik Fanning dalam karirnya sebagai seorang aktris. Penampilan Fanning juga didukung oleh penampilan solid dari Collette dan Eve – meskipun dalam karakter yang sayangnya seringkali terasa kurang mampu diberikan ruang pengisahan yang lebih baik lagi.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.