Review

Info
Studio : Starvision
Genre : Drama, Comedy
Director : Ernest Prakasa
Producer : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Starring : Adinia Wirasti, Aurora Ribero, Ernest Prakasa, Refal Hadi, Valerie Thomas

Jumat, 22 Desember 2017 - 03:21:36 WIB
Flick Review : Susah Sinyal
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 1070 kali


Apa salah satu ketakutan terbesar orang zaman sekarang, selain kuota internet sekarat atau tidak ada layanan Wi-Fi? Susah sinyal! Karena semua orang selalu ingin terkoneksi dengan orang lain melalui ponsel pintar mereka alih-alih meluruskan komunikasi yang dapat dijalin secara langsung dengan orang-orang di dekat mereka. Filosofi seperti ini tampaknya menjadi usungan Ernest Prakasa dalam film ketiganya, Susah Sinyal (tentu saja).

Sebuah premis menggelitik dan pastinya sontak membuat nyaris kita semua merasa tertohok oleh sentilan sajian Ernest. Hanya saja, sebagai seorang komika dan sesuai dengan konsep film-film Ernest sebelumnya (Ngenest, Cek Toko Sebelah), maka ide cerita dibungkus dengan paduan komedi dan drama keluarga, sehingga tetap terasa ringan dan mudah dicerna.

Menariknya lagi, dalam Susah Sinyal Ernest tidak lagi mengangkat latar sosialnya sebagai keturunan Tionghoa. Melainkan memindahkan sudut pandang kepada seorang ibu tunggal bernama Ellen (Adinia Wirasti, Cek Toko Sebelah), seorang pengacara sibuk, bersama anak semata wayang, Kiara (pendatang baru Aurora Ribero), seorang remaja penuh bakat dan lebih karib dengan sang nenek, Agatha (Niniek L. Karim, Sweet 20), ketimbang ibunya sendiri.

Malang Agatha kemudian menutup usia, meninggalkan hanya Ellen dan Kiara tersisa dalam keluarga mereka. Lantas, untuk mendekati anaknya kembali, Ellen setuju untuk liburan ke pulau Sumba bersama Kiara. Di sana, di tengah susahnya menangkap sinyal, ibu dan anak ini akhirnya memiliki kesempatan dan waktu untuk saling membuka diri. Namun, saat kembali ke Jakarta, kepentingan masing-masing kembali bertabrakan. Hubungan Ellen dan Kiara yang masih rapuh harus teruji ikatannya.

Sebagaimana biasa, Ernest selalu sanggup diandalkan dalam menghadirkan film pop renyah. Pilihan untuk meminggirkan dirinya sosok pendukung dan mendelegasikan "tugas" kepada Adinia dan Aurora patut dipuji. Selain itu, asupan komedi menggelitik demikian tumpah ruah. Nyaris di setiap saat film siap untuk mengocok perut penonton. Amunisi datang baik dari Ernest itu sendiri (masih "memanfaatkan" stereotipe etnisnya sebagai modal satir) maupun rombongan komika populer lain yang diajak menjadi bintang tamu.

Kata orang komedi itu soal selera. Bisa jadi lawakan dalam Susah Sinyal sukses memancing tawa, meski bisa jadi juga tidak. Secara pribadi, asupan komedi dalam Susah Sinyal (dan film-film Ernest sebelumnya) hit-and-miss. Ada yang sukses membuat tersenyum, bahkan terbahak. Ada juga yang membuat kening berkerut karena terasa garing. Terlepas dari itu, Susah Sinyal dipastikan punya banyak modal untuk membuat para fans tertawa.

Juga sebagaimana film-film Ernest terdahulu, formula komedi dalam Susah Sinyal dapat dibagi dalam dua jenis: (1) integratif dengan jalinan narasi, dan (2) sketsa mandiri yang bertugas sebagai comic relief. Menjadi persoalan karena adegan-adegan komik ini justru terasa mendominasi dan mendistraksi dari usungan tema utama; hubungan ibu-anak serta masalah komunikasi personal.

Premis film memang tipis. Mungkin karena itu Ernest "menggeber" sisi komedi dengan porsi berlebihan untuk mengisi alur. Jika sisi komedi dihilangkan dan hanya berfokus pada drama, tidak sampai satu jam agaknya film juga sudah selesai. Bukan masalah besar, sih. Hanya saja, tanpa bumbu komedi Susah Sinyal akan condong menjadi monoton, mengingat drama yang diniatkan inspirasional hadir dengan perspektif sempit, klise dan tertebak.

Walau Ngenest dan Cek Toko Sebelah relatif mampu dalam membangun emosi menggugah, bangunan dramatik solid sejauh ini bukan/belum menjadi forte utama Ernest. Terlepas dari keberadaan beberapa momen pemancing haru, Susah Sinyal cenderung hambar. Penyebabnya adalah Adinia tidak mendapatkan tandem akting memadai dari Aurora. Di beberapa bagian Aurora tampil datar dan tak berjiwa karena kemampuan dirinya dalam mengeksplorasi karakter belum terasah benar.

Naskah tulisan Ernest bersama sang istri, Meira Anastasia, pun tidak piawai dalam mengelaborasi plot. Interaksi Kiara dan pemuda Sumba, Abe (Refal Hadi, Galih & Ratna) atau Ellen dengan calon love interest potensial, rekan pengacara simpatik, Aji (Darius Sinathrya, Love) sebenarnya bisa memberi kedalaman atau nuansa tersendiri untuk memperkaya jalan cerita. Sayang mereka hanya berfungsi sebagai aksesori tanpa kontribusi signifikan. Porsi sketsa komedi terlalu menyita, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa untuk  mereka.

Dengan rasio tidak sebanding antara komedi dan drama, pada akhirnya ritme film terasa timpang. Tidak heran Susah Sinyal akan lebih diingat karena kumpulan sketsa komedinya, ketimbang tutur humanisnya, meski memiliki kandungan pesan penting.

Tapi, kalau hanya mau tergelak oleh barisan komika idola, bolehlah.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.