Review

Info
Studio : Palari Films
Genre : Drama
Director : Edwin
Producer : Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia
Starring : Putri Marino, Adipati Dolken, Cut Mini, Yayu Unru

Jumat, 27 Oktober 2017 - 01:25:26 WIB
Flick Review : Posesif
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 673 kali


Pengerjaan film bertema remaja biasanya gampang-gampang susah. Gampang, karena biasanya dinamika kehidupan remaja digambarkan relatif lebih sederhana dibandingkan dunia dewasa yang kompleks dengan segala problematikanya. Susah, karena jika tidak memiliki sudut pandang tepat jatuhnya hanya menjadi film ringan gampang terlupakan dan sama sekali tidak mengangkat sisi remaja tersebut secara riil.

Di setiap generasi, pasti ada film remaja berkesan, yang hingga kini masih dianggap sebagai sebuah film bagus dan membingkai kehidupan remaja (masa itu) dengan bernas. Di era 80-an kita mengenal film-film kreasi John Hughes semacam Sixteen Candles atau The Breakfast Club dengan kehidupan manis-getir dunia remaja. Di era 90-an, tema film remaja bahkan merambah tidak hanya analisis eksistensialisme atau peer pressure, juga post-mo semacam Scream atau Election. Era 2000-an kita mengenal Bring It On atau Mean Girls yang serius tapi santai sembari tetap penuh makna.

Itu Hollywood. Bagaimana dengan Indonesia? Meski tema roman picisan senantiasa menjadi pakem andalan sedari dulu hingga sekarang, setidaknya mulai ada variasi di aspek tematis atau genre. Ada Apa Dengan Cinta? (2002), Catatan Akhir Sekolah (2005) atau Realita Cinta Rock ‘N Roll (2006) bisa dikatakan paling menonjol.

Sekarang daftar film remaja Indonesia berkesan lain boleh ditambahkan dengan Posesif, yang istimewanya adalah buah karya Edwin (Kara, Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Yang Ingin Terbang, Postcard from the Zoo), yang sebelumnya dikenal berkat film-film artistik dan banyak berbicara di berbagai festival film internasional, termasuk Cannes dan Berlinale.

Tentunya menarik untuk mengetahui bagaimana perspektif seorang Edwin untuk kehidupan remaja. Lebih menarik lagi saat mengetahui Posesif disiapkan sebagai film “mainstream” pertama bagi Edwin. Mungkin penyebabnya karena faktor anggapan jika kisah remaja harus dibingkai dalam koridor narasi ringan dan populer? Apapun itu, Posesif dipastikan bukan film remaja biasanya.

Posesif dibuka dengan adegan meet cute antara Lala (Putri Marino) dengan siswa baru di sekolahnya, Yudhis (Adipati Dolken). Sebuah hukuman membuat mereka harus saling mengaitkan tali sepatu dan mencoba berjalan bersama. Sebuah bahasa gambar yang sudah sangat kuat untuk membuka cerita dan memberi bayangan kemana kiranya nanti ia akan bergulir.

Dalam perkembangannya, Lala kemudian belajar jika cinta, dan pacaran, tidak selalu manis atau romantis. Apalagi jika sang pacar adalah Yudhis, yang sebagaimana judul film, kerap posesif bahkan ringan tangan. Tapi Lala memutuskan untuk bertahan, karena baginya Yudhis adalah cinta pertama yang layak untuk dipertahankan.

Naskah yang ditulis oleh Ginatri S. Noer (Ayat-Ayat Cinta, Hari Untuk Amanda, Habibie & Ainun) cukup telaten dalam membangun ceritanya dengan asupan latar psikologis dan sosiologis. Hubungan tak sehat antara Yudhis dan Lala tidak melulu berbicara dalam konteks pelaku dan korban. Ada intimidasi. Ada manipulasi. Ada penebusan. Dan sifatnya dua arah.

Ada motivasi tentu ada latar pula. Oleh karena itu, hadir sosok ayah atau ibu di belakang Lala dan Yudhis, yang dengan sengaja diperlihatkan sebagai orang tua tunggal. Ayah Lala (Yayu Unru) adalah seorang pelatih loncat indah yang disiplin dan ibunda Yudhis (Cut Mini) digambarkan dominan. Hanya saja, naskah kurang elaboratif dalam mengangkat peran patron dan matron ini untuk mempengaruhi aksi dan reaksi Lala dan Yudhis. Seperti tempelan. Nasib nyaris serupa juga pada teman-teman Lala yang lebih mirip pelengkap penderita.

Bisa jadi penyebabnya karena naskah teralu fokus pada Lala dan Yudhis itu sendiri, namun terasa agak keteter dalam membangun pondasi hubungan mereka secara lebih meyakinkan lagi. Saat kemudian atmosfer mulai berubah kelam, konflik antara mereka terasa dipaksakan atau terburu-buru. Durasi nyaris dihabiskan untuk memperlihatkan tarik ulur emosional antara Lala dan Yudhis, walau tanpa dibekali mengapa hubungan ini layak untuk dipertahankan. Pencetusnya tidak terlalu kuat.

Memang usia 17 adalah usia gamang. Sebuah usia di mana remaja sangat terdorong untuk mengikuti kata hatinya untuk “melompat” meski sebenarnya memiliki rasa takut atas pilihan yang mereka putuskan. Namun bukan berarti menggampangkan juga, sebagaimana yang terpapar dalam film.

Posesif menjadi tanggung dan tidak konsisten. Antara drama atau thriller. Sebagai drama ia terlalu ruwet untuk menjelaskan banyak hal. Sebagai thriller ia tidak tergali dengan baik. Padahal suspensi cukup berhasil dibangun Edwin, meski kemudian harus rela terpinggirkan oleh cerewetnya karakter-karakter ini.

Mungkin apa yang dinyanyikan Naif dalam lagu hit mereka, ‘Posesif’, “mengapa ku begini / jangan kau pertanyakan,” bisa diterapkan untuk Posesif versi film. Kadang-kadang, sebuah kisah dengan balutan psikologis tebal berkesan lebih mendalam jika tanpa dibebani  sebab-akibat atau mengapa.

Sebenarnya Posesif punya potensi untuk menjadi film sunyi yang lebih menohok. Adegan senyap tapi intens memang bukan hal aneh bagi Edwin. Film-filmnya yang lampau kental dengan nuansa ini. Posesif juga memiliki itu. Bahkan film terlihat menonjol di saat karakter-karakternya hanya bersandar pada gestur atau suasana. Sayang jumlahnya terbatas.

Meski begitu Posesif tetap sebuah film yang sangat layak untuk disimak. Bekal utama pastinya adalah akting menawan dari para pemainnya, termasuk pendatang baru menjanjikan seperti Putri Marino. Juga seorang Adipati Dolken yang sukses keluar dari zona nyamannya dan menampilkan akting berkelas. Tidak usah ditanya lagi tentunya untuk Yayu Unru dan Cut Mini.

Kekuatan lainnya adalah pengarahan dari Edwin itu sendiri. Banyak yang bilang jika film-film Edwin sulit untuk dicerna. Suatu anggapan yang kurang saya setujui, karena meski kadang agak diluar pakem konvensional, film-film Edwin itu sebenarnya komunikatif. Hanya saja ia tidak ingin terjebak dalam penceritaan yang “aman”. Kini, sisi komunikatif tersebut tentunya lebih mudah ditemui dalam Posesif, karena Edwin memilih pendekatan narasi yang lebih renyah diikuti karena mengikuti formula film populer.

Oleh karenanya, pengarahannya dalam Posesif  tidak hanya bergaya, tapi juga lancar dan mampu membangkitkan sisi emosional. Tidak heran film sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Tentu saja haru-biru berderai air mata bukan menu utama sebuah melodrama di tangan seorang Edwin. Wacana adalah kunci, sehingga Posesif mampu menohok sekaligus membuka mata tentang sisi getir romansa, sehingga sangat layak untuk disimak, direnungi atau didiskusikan bersama. Kualitas yang biasanya sulit ditemui dalam sebuah film remaja.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.