Review

Info
Studio : MD Pictures/Pichouse Films
Genre : Horror
Director : Jose Poernomo
Producer : Manoj Punjabi
Starring : Evan Sanders, Celine Evangelista, Hikmal Nasution, Torro Margens, Alfie Alfandie

Senin, 09 Oktober 2017 - 18:41:16 WIB
Flick Review : Ruqyah: The Exorcism
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 594 kali


Di tengah industri yang terus berjuang untuk dapat meraih kembali kepercayaan penonton, jelas tidaklah salah jika beberapa pembuat film memilih untuk “bermain aman” dengan memproduksi film-film yang memang terbukti mampu menarik perhatian penonton. Tahun ini, dengan keberhasilan besar yang diraih Danur (Awi Suryadi, 2017), Jailangkung (Rizal Mantovani, Jose Poernomo, 2017), dan Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), horor jelas menjadi lahan emas yang ingin dirasakan oleh banyak orang. Ruqyah: The Exorcism sendiri menjadi film horor kedua arahan Poernomo yang dirilis tahun ini setelah Jailangkung yang ia arahkan bersama Mantovani dan Gasing Tengkorak yang direncanakan akan rilis November mendatang. Sayangnya, bahkan lebih buruk dari Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism hadir dalam kualitas pengisahan yang cukup menyedihkan.

Jalan cerita Ruqyah: The Exorcism sendiri dimulai dengan perkenalan antara Mahisa (Evan Sanders) dengan Asha (Celine Evangelista). Walau awalnya perkenalan antara keduanya berlangsung tanpa direncanakan namun tidak membutuhkan waktu yang begitu lama bagi hubungan antara Mahisa dan Asha untuk tumbuh erat – meskipun saat itu Asha sedang menjalin hubungan dengan Kelvin (Hikmal Nasution). Masalah kemudian muncul ketika Asha mengungkapkan kepada Mahisa bahwa dirinya kerap mendapatkan gangguan dari makhluk halus. Walau awalnya merasa kurang yakin dengan pengakuan Asha, Mahisa lantas memilih untuk membantu gadis tersebut dengan mengantarkannya kepada seorang ahli agama agar Asha dapat di-ruqyah dan dibersihkan jiwa dan raganya. Bukan masalah mudah. Ternyata apa yang merasuki Asha memberikan perlawanan kuat dan bahkan mulai mengancam nyawa Mahisa.

Selain penggalan ide kisah yang cukup menarik tentang sekelompok orang yang menculik para gadis desa untuk kemudian mengisi jiwa mereka dengan sebuah kekuatan mistis agar mereka dapat bekerja di kota sebagai artis dan menarik perhatian banyak orang, hampir tidak ada satupun elemen pengisahan dalam Ruqyah: The Exorcism yang layak untuk mendapatkan pujian. Permasalahan utama jelas datang dari naskah cerita garapan Poernomo dan Baskoro Adi (Jailangkung, 2017) yang tampil dengan pengembangan kisah maupun karakter yang begitu dangkal. Tidak mengherankan bila kemudian, pada kebanyakan bagiannya, Ruqyah: The Exorcism terasa bagaikan potongan-potongan kisah yang kemudian disatukan namun seringkali tidak memiliki kontinuitas cerita antara satu adegan dengan yang adegan yang lain. Konflik dan karakter datang dan menghilang begitu saja.

Tidak hanya hadir dengan kualitas penulisan cerita yang mengecewakan, Ruqyah: The Exorcism juga semakin diperburuk dengan pengarahan Poernomo yang begitu berantakan. Adegan demi adegan dalam film ini hadir dengan ritme pengisahan yang tidak beraturan – kadang terasa begitu lamban dalam menjelaskan detil penceritaan dan hadir begitu terburu-buru dalam menyelesaikan sebuah konflik pengisahan di bagian lain. Atmosfer horor yang dibangun Poernomo juga lebih sering gagal untuk tereksekusi dengan baik. Banyak bagian yang harusnya dapat menghasilkan momen-momen kengerian malah berakhir menggelikan akibat penggarapan yang terlalu lemah. Begitu pula dengan penampilan dari para pengisi departemen akting film ini. Lemah. Dan menggelikan.

Dari sisi teknikal, Ruqyah: The Exorcism juga tampil seadanya. Tata musik garapan Joseph S. Djafar juga kerapkali berusaha untuk memberikan efek kejut pada penontonnya dengan berusaha memecahkan gendang telinga mereka. Sangat mengganggu. Gambar-gambar besutan Poernomo mungkin adalah sedikit bagian dari presentasi Ruqyah: The Exorcism yang mungkin masih mampu tampil memikat. Pada beberapa bagian, Poernomo berhasil mengisi adegan-adegan horor filmnya dengan penampilan-penampilan makhluk supranatural yang tergarap dengan baik. Selebihnya, Ruqyah: The Exorcism hanya akan mengingatkan banyak penontonnya pada masa-masa kelam perfilman Indonesia dimana layar bioskop negeri ini diisi dengan puluhan judul-judul horor yang diproduksi dengan kualitas tak bertanggungjawab demi memanfaatkan rasa ketertarikan para penonton film Indonesia pada cerita-cerita berbau mistis nan menyeramkan. Suatu pencapaian yang membuat presentasi Ruqyah: The Exorcism menjadi salah satu yang terburuk di sepanjang tahun ini.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.