Review

Info
Studio : Starvision/Legacy Pictures
Genre : Drama
Director : Monty Tiwa, Robert Ronny
Producer : Chand Parwez Servia, Robert Ronny
Starring : Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, Widyawati, Hamish Daud

Minggu, 14 Mei 2017 - 19:30:49 WIB
Flick Review : Critical Eleven
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 940 kali


Critical Eleven, yang menjadi buku ketujuh yang ditulis oleh novelis Ika Natassa, berhasil membuktikan posisi penulis kelahiran Medan tersebut sebagai salah satu penulis dengan karya yang paling dinantikan oleh banyak penikmat buku di Indonesia. Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2015, buku tersebut berhasil terjual dalam hitungan ribuan eksemplar hanya dalam beberapa menit. Hingga akhir tahun lalu, Critical Eleven bahkan tercatat telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Tidak mengherankan bila novel tersebut kemudian menarik minat banyak produser film Indonesia untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Kini, hampir dua tahun semenjak perilisannya, dengan Chand Parwez Servia dan Robert Ronny bertanggungjawab sebagai produser serta Ronny turut mendampingi Monty Tiwa dalam bertugas sebagai sutradara, versi film Critical Eleven akhirnya dirilis. And ladies and gentlemenit’s easily one of the year’s finest pictures.

Materi yang ditawarkan Critical Eleven sendiri sebenarnya akan mengingatkan banyak penontonnya pada film arahan Tiwa sebelumnya, Test Pack: You’re My Baby (2012). Selain sama-sama menampilkan Reza Rahadian sebagai aktor utamanya, Critical Eleven juga menghadirkan drama yang menyelami deretan konflik yang sedang dihadapi oleh jalinan pernikahan para karakter utamanya. Sebuah pengisahan drama bernuansa dewasa yang, sejujurnya, masih sukar ditemukan dalam barisan film Indonesia yang dirilis di layar bioskop negeri ini atau berhasil dieksekusi dengan mulus oleh para pembuatnya. Dengan durasi sepanjang 135 menit, Critical Eleven sebenarnya menghadirkan konflik yang minimalis. Adalah kemampuan para pembuatnya yang kemudian berhasil mengeksplorasi konflik minimalis tersebut menjadi sebuah eksplorasi kisah dan karakter yang benar-benar mengikat.

Critical Eleven dimulai dengan pertemuan Anya (Adinia Wirasti) dengan Ale (Rahadian) dalam sebuah penerbangan dari Jakarta menuju Sydney, Australia. Lewat waktu yang mereka habiskan bersama, keduanya saling mengenal satu sama lain dan kemudian memutuskan untuk saling berhubungan seusai perjalanan tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Anya dan Ale untuk memutuskan bahwa keduanya ingin menghabiskan sisa kehidupan mereka bersama sebagai pasangan suami istri. Anya bahkan rela meninggalkan karirnya yang cemerlang di Jakarta dan pindah ke New York, Amerika Serikat agar dapat hidup berdekatan dengan Ale yang bekerja di sebuah kilang minyak di lepas pantai Meksiko. Konflik kemudian menghampiri ketika pasangan tersebut menyadari bahwa mereka akan segera dianugerahi anak pertama mereka. Sebuah tragedi datang dan dengan segera mengubah cara pandang Anya dan Ale untuk menatap satu sama lain dalam kehidupan pernikahan keduanya.

Bersama dengan Ronny – yang sebelumnya mengarahkan Hattrick (2012) dan salah satu segmen dalam Dilema (2012) – Tiwa mampu menghadirkan Critical Eleven dengan ritme pengisahan yang mengalir dengan begitu lancar. Karakter-karakter utama dalam film ini berhasil diperkenalkan dengan baik. Kehidupan mereka, baik sebelum maupun sesudah memasuki masa pernikahan serta karakter-karakter yang melingkupi mereka, disajikan secara lugas. Kisah dan berbagai dilema yang mereka hadapi juga mampu ditampilkan secara kuat sekaligus emosional tanpa pernah terasa berlebihan. Tiwa dan Ronny mampu mengemas film mereka untuk berkisah secara personal – seperti mendengarkan curahan hati seorang sahabat yang akan mampu memberikan senyum maupun menyentuh hati para pendengarnya. Critical Eleven juga sukses dihadirkan dengan kualitas produksi yang prima. Tata sinematografi arahan Yudi Datau berhasil menyajikan deretan gambar yang begitu memikat mata. Begitu pula dengan arahan musik dari Andi Rianto yang mampu menghadirkan dorongan emosional yang kuat dalam setiap adegan film.

Keberhasilan arahan penceritaan Tiwa dan Ronny jelas tidak lepas dari kualitas penulisan naskah cerita yang mereka garap bersama dengan Natassa dan Jenny Jusuf (Filosofi Kopi the Movie, 2015). Secara cerdas, film ini menyelami kehidupan pernikahan dua karakter utamanya. Bagaimana dua orang yang awalnya saling jatuh cinta dan mengagumi satu sama lain kemudian terjebak pada sebuah hubungan dimana mereka mencinta sekaligus membenci akibat rasa duka yang mereka alami bersama sebagai pasangan suami istri. Meskipun pada beberapa bagian konflik-konflik tersebut mendapatkan pengembangan yang terasa kurang begitu esensial dan dapat diperingkas atau dihilangkan begitu saja, namun naskah cerita Critical Eleven sukses mengeksplorasi setiap bagian konflik dengan baik, bagaimana konflik-konflik tersebut mempengaruhi para karakter sekaligus aliran emosional yang aktif mengisi setiap perjalanan kisahnya.

Namun, aset kesuksesan terbesar dari Critical Eleven datang dari departemen aktingnya. Rahadian dan Wirasti – yang untuk kali ketiga tampil bersama dalam sebuah film – hadir dengan jalinan chemistry yang luar biasa hangat sekaligus meyakinkan. Penampilan akting mereka mampu menghidupkan karakter Ale dan Anya menjadi sosok karakter yang tidak hanya mudah disukai keberadaannya tapi juga dengan kisah hidup yang secara alami terkoneksi dengan para penontonnya. Wirasti, dalam salah satu penampilan terbaiknya, bahkan memberikan kedalaman emosional yang begitu kuat dalam menyajikan perasaan jatuh cinta, bahagia maupun rasa duka yang dialami karakternya. Jajaran pemeran pendukung film, yang diisi nama-nama seperti Slamet Rahardjo Djarot, Widyawati, Revalina S. Temat, Astrid Tiar, Hannah Al Rashid hingga Hamish Daud Wyllie, semakin memperkuat kesolidan kualitas film. Jalinan kisah yang murni berfokus penuh pada kedua karakter utama memang tidak memberikan banyak bagian bagi para karakter-karakter pendukung. Meskipun begitu, setiap karakter pendukung yang hadir mampu memberikan warna  tersendiri bagi jalan pengisahan Critical Eleven.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.