Review

Info
Studio : Universal Pictures
Genre : Horror, Thriller, Drama
Director : M. Night Shyamalan
Producer : Jason Blum, M. Night Shyamalan, Marc Bienstock
Starring : James McAvoy, Anya Taylor-Joy, Haley Lu Richardson, Jessica Sula, Betty Buckley

Kamis, 09 Februari 2017 - 13:57:37 WIB
Flick Review : Split
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 1500 kali


Semenjak mengemuka lewat The Sixth Sense (1999), nama M. Night Shyamalan identik dengan twist. Film demi film yang dirilisnya setelah itu mempertegas kesan tersebut. Sayangnya secara kualitas film-film Shyamalan kemudian mengalami penurunan. Puncaknya saat ia memutuskan banting setir dengan mengarahkan beberapa film blockbuster kaya efek khusus (The Last Airbender, After Earth). Selepas sambutan kurang memuaskan terhadap film-film tersebut, ia seperti menyadari jika “bakatnya” lebih tepat tetap berada di ranah thriller atau horor. Tidak heran kemudian Shyamalan “me-reboot” karirnya dengan menghadirkan film horor mockumentary berjudul The Visit (2015) yang ternyata mendapat sambutan bagus. Kini, ia menyusulnya dengan Split.  

Split masih melanjutkan kolaborasi Shyamalan bersama produser spesialis horor berbujet minimalis, Jason Blum selepas The Visit. Sebagaimana umumnya film-film Shyamalan, ekspektasi akan hadirnya twist dalam Split adalah besar. Tanpa bermaksud mengecewakan, twist dalam Split hadir dalam konteks yang berbeda dan bukan sajian utama, karena film lebih memilh untuk menghadirkan konflik psikologis sebagai balutan cerita.

Berbicara tentang sisi psikologis, Split secara harafiah menghadirkan karakter bernama Kevin (James MCAvoy) yang memiliki 23 kepribadian. Dalam menyambut kedatangan kepribadian ke-24, salah satu personanya, Dennis, menculik tiga gadis remaja, Claire (Haley Lu Richardson, The Edge of Seventeen), Marcia (Jessica Sula, Skins) dan Casey (Anya Taylor-Joy, The Witch, Morgan), dan menyekap mereka. Sementara itu, psikolog Kevin, Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley, Carrie), mencurigai jika kepribadian-kepribadian Kevin memiliki rencana tertentu dengan mencoba mengelabui dirinya.

Dengan seting dan karakter yang terbatas, Split mungkin bisa menghadirkan intensitas ala 10 Cloverfield Lane (2016) misalnya. Hanya saja, ternyata Shyamalan lebih tertarik untuk mengelaborasi dinamika hubungan antara Kevin (dan beberapa personanya) dengan Casey, yang awalnya tidak diniatkan sebaga korban. Sebagai akibatnya, seiring cerita bergulir, Claire dan Marcia kemudian terpinggirkan dan hanya menjadi latar.

Pada akhirnya, ketimbang hadir menjadi tipikal kisah horor belaka, Split menjadi analisa psikologis akan trauma masa kecil. Split menjadi ajang bagi McAvoy dan Taylor-Joy untuk melakukan tandem dalam memberi dinamika dan warna untuk aspek tematis film.

Kudos especially to McAvoy for essaying such difficult task in portraying many characters with such wit and bravura. Film tidak akan berhasil jika McAvoy gagal dalam menerjemahkan dengan tegas beberapa wajah Kevin dalam waktu yang nyaris tanpa jeda, namun tanpa harus terasa terlalu karikatural. It is indeed a tour-de-force performance!

Sedang Taylor-Joy (hadir dengan aura layaknya aktris horor era 70-an) cukup tangkas dalam meladeni McAvoy. Casey yang pendiam dan kalkulatif adalah “lawan seimbang” untuk Kevin dan Taylor-Joy berhasil dalam menunaikan tugasnya. Ia membuktikan jika sukses The Witch bukanlah kebetulan semata.

Secara teknis, Split adalah sarana bagi Shyamalan untuk merangkul kembali kinetisme gaya penyutradaraan di awal-awal karirnya, termasuk penghormatan dengan mengadaptasi beberapa ciri khas Alfred Hitchcock.

Dan menarik bagaimana Split ternyata lebih fokus pada plot dan drama, ketimbang mengejar intensitas atau kengerian saja. Dengan demikian Split bisa menghindari diri dari tipikal horor yang mengandalkan kejutan dan shock factor, sesuatu yang sebenarnya dihadirkan Shyamalan dalam The Visit.

Tidak masalah juga, karena selepas menyaksikan Split secara utuh, kita pun menyadari mengapa Shyamalan memilih pendekatan tersebut. Menjadi masalah saat Shyamalan kembali terjebak pada kecenderungan memanjang-manjangkan cerita, termasuk hadirnya berbagai adegan penuh eksposisi namun sebagian besar kurang memiliki kontribusi signifikan. Ini menyebabkan tempo di pertengahan film terasa berlarat.

Terlepas dari itu, Split pastinya sebuah film horor-thriller yang cukup berbeda. Keputusan untuk mengaburkan batasan antara villain dan protagonis membuat film terasa lebih humanis. Sesuatu yang sebenarnya juga bisa diharapkan dari film-film Shyamalan, ketimbang sekedar jualan twist belaka. Meski bukan yang terbaik darinya, namun dengan Split Shyamalan dengan mulus menegaskan jalan comeback-nya sebagai auteur horor-thriller terdepan masa kini. 

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.