Review

Info
Studio : Taiwan Public Television Service Foundation, Seashore Image Productions
Genre : Documentary
Director : Midi Z
Producer : Wang Shin-hong, Midi Z, Isabella Ho, Lin Sheng-wen
Starring : Zhao De-chin, U Aung Kyaw, U Nein, U Zaw Tun, U Zaw Win

Selasa, 29 November 2016 - 08:24:28 WIB
Flick Review : JAFF 2016: City of Jade
Review oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 749 kali


Melalui film dokumenter bertajuk City of Jade, sutradara Taiwan berdarah Myanmar, Midi Z, menghamparkan potret realistis, buram, sekaligus personal mengenai kehidupan para penambang batu giok ilegal di suatu daerah yang kerap disebut Kota Giok. Tidak seperti karyanya terdahulu, Jade Miners, yang lebih banyak menaruh perhatian terhadap siklus kehidupan para penambang dengan gaya bertutur kurang bersahabat bagi penonton kebanyakan – hanya mengandalkan 20 shots selama rentang durasi 100 menit, City of Jade secara spesifik menempatkan saudara laki-laki sang sutradara, Zhao De-chin, sebagai subjek dan adanya dinamika dalam penuturan membuat film akan lebih mudah terhubung ke khalayak luas. Terlebih, kulikan Midi Z disini terhitung sangat menarik karena bukan semata-mata mempergunjingkan soal situasi politik dari tanah kelahirannya yang sarat akan intrik berlarut-larut tetapi juga membahas bagaimana impak besarnya terhadap kehidupan masyarakat Myanmar atau dalam hal ini, keluarganya sendiri.

Pertanyaan utama yang diajukan film adalah, “apa yang sesungguhnya dialami Zhao De-chin saat dirinya tidak memberikan kabar apapun pada keluarga selama dua puluh tahun lebih?.” Ya, City of Jade semacam sarana rekonsiliasi Midi Z dengan saudaranya, Zhao De-chin, yang telah menghilang dari kehidupannya selama menahun tanpa pernah sekalipun merespon ratusan surat yang dilayangkan oleh sang adik. Selepas Zhao De-chin yang ternyata diketahui mendekam dibalik jeruji besi lantaran mempergunakan obat-obatan terlarang dibebaskan pada tahun 2010, si pembuat film menghampirinya untuk memperoleh jawaban. Hal pertama yang diketahui Midi Z dari saudaranya tersebut adalah keinginannya untuk melanjutkan pencarian batu giok di wilayah konflik Kachin, Myanmar. Konon, perseteruan tak berkesudahan antara pemerintah dengan KIA (Kachin Independence Army) menyebabkan perusahaan-perusahaan besar berhenti beroperasi di tambang batu giok berjulukan Kota Giok. ‘Kosongnya kekuasaan’ ini dimanfaatkan para pengejar mimpi untuk mengeksploitasi area tersebut.

Salah satunya adalah Zhao De-chin. Midi Z pun mau tak mau kudu rela menempuh perjalanan jauh menaiki kereta dari Mandalay menuju Kachin demi mengikuti ambisi kakaknya. Terhitung semenjak keduanya berada di atas kereta, informasi lebih mendetail dinarasikan oleh si pembuat film terkait bagaimana dia sama sekali kabur soal perjuangan hidup sang kakak di masa-masa menghilangnya dan nelangsanya hari-hari yang harus dijalani oleh Midi Z beserta keluarga sepeninggal Zhao De-chin terlebih situasi politik Myanmar yang tidak kondusif menyulitkan mereka mendapat penghidupan layak. Keingintahuan pada kebenaran yang ditutup rapat-rapat si subjek menjadi fondasi utama ketertarikan mengikuti City of Jade. Well, Zhao De-chin bukannya sepenuhnya enggan untuk buka mulut kala masa lalu kelamnya diungkit-ungkit, hanya saja pengakuannya bersifat umum seperti kecanduan Opium hasil dari pemakaian intensif guna menghempaskan stres pekerjaan dan ketiadaan hiburan (begitu pula dengan para penambang lainnya). Dia emoh berbincang tentang hal-hal yang telah menjurus ranah sangat pribadi sehingga lambat laun penonton turut digelayuti rasa penasaran sejenis dengan pertanyaan utama yang disodorkan Midi Z.

Penggunaan alat rekam seadanya menjadi semacam blessing in disguise bagi City of Jade. Kesannya teramat kasar, memang, tapi relevan dengan subjek maupun topik yang diperbincangkan mengenai kemiskinan, kekacauan politik, obat-obatan terlarang sampai pupusnya harapan. Memberikan kedalaman rasa yang dibutuhkan oleh film. Tidak berasa palsu – mengonfirmasi bahwa film sepanjang 99 menit ini tidak dibentuk dari skrip, dan kesederhanaannya memperkuat sisi realistisnya. Penonton serasa benar-benar dilibatkan ke dalam film; seolah-olah berada di posisi Midi Z atau setidaknya menemaninya dalam perjalanan ini. Ada momen dibuat terhenyak mendengar penuturan dari Zhao De-chin soal masa lalu berikut pekerjaan yang dilakoninya guna menyambung hidup, terenyuh melihat salah seorang pekerja menelpon istrinya lalu memperoleh kabar sejumlah uang yang kudu didapat untuk melunasi beberapa tagihan, hingga berdebar-debar begitu kamera menyoroti upaya beberapa pekerja ilegal melarikan diri dari tangkapan prajurit KIA yang secara berkala menjalankan operasi di area penambangan.

** City of Jade ditayangkan pada 29 November 2016 di Empire XXI pukul 10.15 dan tergabung dalam program Asian Feature sesi kompetisi memperebutkan piala JAFF Award di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016. Film lain dari program ini antara lain Daughters of the Three Tailed Banner (Filipina), hUSh (Indonesia), Istirahatlah Kata-Kata (Indonesia), MRS (Filipina), dan The Island Funeral (Thailand). Informasi lebih lengkap bisa dilihat di https://jaff-filmfest.org/asian-feature/

 

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.