Review

Info
Studio : Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios
Genre : Animation, Comedy, Adventure
Director : Pete Docter, Ronnie del Carmen
Producer : Jonas Rivera
Starring : Amy Poehler, Phyllis Smith, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Diane Lane

Rabu, 26 Agustus 2015 - 18:51:14 WIB
Flick Review : Inside Out
Review oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 1437 kali


“Pixar is back!” adalah seruan pertama yang saya lontarkan seusai melahap Inside Out di layar lebar. Rasa-rasanya, siapapun yang beranggapan empat tahun terakhir film keluaran Pixar tidak berada dalam kondisi prima pun akan melakukan hal serupa. Ya, paska Toy Story 3, studio animasi berlogo lampu meja ini seolah-olah kehilangan pegangan – bahkan perlahan tapi pasti dihempaskan oleh rekannya, Disney, yang semakin menggila produksi animasinya – dengan melempar proyek film-film kelanjutan yang secara kualitas terbilang medioker untuk ukuran Pixar. Di saat Pixar mulai meredup, Pete Docter, otak dibalik kecemerlangan Monsters, Inc dan Up, mengajukan gagasan ambisius untuk divisualisasikan di film teranyarnya bertajuk Inside Out. Hanya dengan mendengar premisnya saja, “bagaimana jika ada makhluk-makhluk kecil yang mendiami tubuh manusia saling bekerjasama untuk mengontrol emosi dan tetek bengeknya?” antisipasi seketika meninggi yang berarti masih ada harapan untuk studio penelur trilogi Toy Story ini kembali bangkit. Dan memang, Inside Out merupakan sebuah langkah awal sempurna bagi Pixar guna merebut lagi posisi penguasa dunia film animasi yang sebelumnya sempat mereka genggam. 
 
Seperti telah digeber di materi promosinya, setidaknya ada lima emosi utama yang bekerja di pikiran sadar seorang perempuan berusia 11 tahun bernama Riley (Kaitlyn Dias), yakni Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling). Telah hadir semenjak Riley dilahirkan, kelimanya berhasil menjaga kekompakan dengan menjalankan peranannya masing-masing secara baik dibawah kepemimpinan Joy yang menjadi emosi paling dominan dalam diri Riley. Segala keteraturan di ruang pengendali – disebut Headquarters – mendadak goyah saat Riley dan keluarganya pindah rumah ke San Fransisco. Well, awalnya memang tidak terlalu buruk karena Joy berusaha keras untuk menjaga pikiran Riley terhadap kehidupan barunya senantiasa positif, namun sebuah insiden kecil yang melibatkan Sadness merobohkan segalanya. Dalam upaya memperbaiki kekacauan yang disebabkan Sadness, Joy dan Sadness malah justru tersedot memasuki labirin penyimpan ingatan jangka panjang Riley. Dengan menghilangnya dua elemen emosi ini, secara otomatis emosi Riley pun mengalami ketimpangan yang membuat keadaan semakin memburuk. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan perkara adalah Joy dan Sadness harus bekerjasama untuk kembali ke Headquarters

Terdengar njelimet? Memang terkesan demikian saat dijlentrehkan di atas kertas – khususnya bagi penonton cilik – namun tak perlu risau karena Pete Docter terbilang piawai dalam menerjemahkan konsep jeniusnya ini ke dalam bahasa gambar sehingga alih-alih membingungkan Inside Out malah justru mempermainkan emosi sedemikian rupa. Ada perpaduan sempurna antara emosi penuh kesenangan (dalam hal ini, tawa canda dan perasaan bersemangat) dengan kesedihan yang menjadikannya sebagai film buatan Pixar paling emosional sejak Toy Story 3. Dan tidak seperti halnya film sang sineas terdahulu,Up, yang sekonyong-konyong membawa penonton pada suasana muram melalui adegan pembuka yang memilukan, Inside Out memilih untuk mengawalinya dengan riang. Pada paruh awal, kita seolah-olah tengah mengikuti perkuliahan singkat di kelas Psikologi yang tergolong menyenangkan bertabur humor segar disana sini. Penonton dibawa menyelami bagian-bagian vital yang berkontribusi terhadap berfungsinya emosi manusia seraya berkenalan dengan sejumlah karakter penting penggerak roda cerita. Seusai afeksi penonton dengan karakter dirasa sudah mulai sedikit terbentuk, Pete Docter menggelindingkan bola konflik satu persatu yang dimulai dengan kesalahan Sadness menyentuh memori inti di hari pertama Riley bersekolah. 

Konflik yang tampaknya sepele ini lantas meletupkan sejumlah konflik lain yang menyeret Joy dan Sadness untuk terlibat dalam petualangan seru menjelajahi ingatan jangka panjang Riley. Sampai disini, emosi penonton masih dikontrol sepenuhnya oleh Joy terlebih ada visual penuh warna memanjakan mata, celetukan-celetukan lucu pengundang tawa (termasuk dari Sadness yang kegundahannya sering membuat saya terbahak) dan keingintahuan besar untuk mengetahui peristiwa apa saja yang menghadang keduanya dalam menuntaskan misi menyelamatkan kenangan-kenangan penting pembentuk kepribadian Riley yang dalam film diibaratkan berwujud pulau. Di tengah perjalanan ini, mereka juga berjumpa dengan Bing Bong (Richard Kind), teman khayalan Riley yang telah lama dilupakan, yang bersedia memberikan bantuan demi kebahagiaan sang sahabat. Kemunculan sosok Bing Bong – seketika merebut spotlight dari Joy maupun Sadness – merupakan menit-menit penanda peralihan emosi dari ‘hijau’ menuju ‘biru’ atau ini berarti, Joy mulai menyerahkan tongkat estafet ke Sadness. Ya, Bing Bong tidak saja menyuntikkan serum kebahagiaan pada film dengan segala tawa candanya tetapi juga menginjeksi serum kesedihan lewat salah satu momen paling mengharu biru di sinema dalam beberapa tahun terakhir yang kemungkinan besar akan menjebol pertahanan air matamu. 
Berhenti sampai disitu saja? Tidak juga. Di dua puluh menit terakhir, Pete Docter semakin kejam dalam membuat perasaanmu campur aduk dan seperti halnya Toy Story 3, menyentuh sisi personal dari para penonton dewasa dengan sekali ini ditujukan untuk mereka yang pernah mengkhianati kepercayaan orang tua. Untuk mereka yang pernah sekali waktu mengecewakan orang tua. Dan untuk mereka yang ketakutan menghadapi perubahan mendadak dalam hidup. Paruh akhir ini sekaligus menguatkan pernyataan bahwa film animasi tidak melulu diproduksi sebagai konsumsi anak-anak, karena hey, sekalipun grafisnya terbilang berwarna warni, Inside Out memiliki penceritaan yang bukan juga sepenuhnya mudah dikunyah dan kandungan permainan emosinya pun pekat tidak semata-mata soal bersenang-senang. Pixar terbukti tidak membual saat menjual Inside Out dengan label ‘a major emotion picture’ karena selama durasi mengalun, emosi penonton dibawa naik turun selayaknya tengah menunggangi roller coaster dari semula tertawa-tawa, bersemangat, sampai mengusap bulir-bulir air mata. Seruan ‘Pixar is back!’, pada akhirnya, memang tidak terdengar berlebihan karena Pixar benar-benar kembali patut diperhitungkan berkat Inside Out yang tampak kentara dibuat menggunakan hati ini. 

Note : Ada bonus film pendek berjudul Lava sebelum penayangan film utama yang cukup manis. Sebaiknya kamu tidak terlambat memasuki gedung pemutaran.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.