Review

Info
Studio : 13 Entertainment
Genre : Drama
Director : Salman Aristo
Producer : Salman Aristo
Starring : Slamet Rahardjo, Andhika Pratama, Roy Marten, Dwi Sasono, Agni Pratistha, Dion Wiyoko, Shahnaz Haque

Rabu, 07 November 2012 - 14:05:15 WIB
Flick Review : Jakarta Hati
Review oleh : Shinta Setiawan (@ssetiawan) - Dibaca: 1982 kali


Kembali mencoba untuk menampilkan potret tentang Jakarta dari dekat, Salman Aristo kembali dengan film terbarunya, Jakarta Hati (2012). Film omnibus ini menyatukan enam kisah yang tak saling berkaitan di bawah satu judul. Melalui film ini, Salman mencoba untuk mengeksplorasi kehidupan warga Jakarta dari sudut yang berbeda-beda dan mencoba melihat apakah kota ini masih memiliki hati.

Jakarta Hati terdiri dari enam cerita. Bagian yang pertama berjudul Orang Lain. Dalam kisah ini, seorang pria berusia 30-an tahun (Surya Saputra) bertemu dengan seorang gadis muda (Asmirandah) di sebuah pub. Keduanya menjadi korban perselingkuhan, karena istri sang pria ternyata menjalin hubungan dengan kekasih sang wanita. Keduanya pun menyusuri Jakarta di waktu malam dan mengaburkan batas antara mereka dan ‘orang lain’ dalam hubungan ini.

Bagian kedua berjudul Masih Ada, bercerita tentang Marzuni (Slamet Rahardjo), seorang anggota DPR yang sedang buru-buru mengejar waktu karena dirinya sudah ditunggu dalam sebuah pertemuan di Senayan. Karena mobilnya sedang rusak, Marzuni terpaksa naik taksi serta ojek dan bersentuhan dengan kehidupan para warga Jakarta yang biasanya tak pernah dirasakannya dari balik jendela mobil mewahnya.

Kabar Baik merupakan cerita ketiga. Kisah ini melibatkan seorang polisi muda bernama Bana (Andhika Pratama) yang harus mengisi BAP seorang penjahat yang baru ditangkap. Masalahnya, sang penjahat adalah ayahnya sendiri (Roy Marten) yang sudah lama tidak dilihatnya. Bana tetap mencoba bersikap profesional meski dirinya marah dan sedih terhadap ayahnya yang kini berubah menjadi seorang tukang tipu kelas kakap.

Dalam Hadiah, Dwi Sasono berperan sebagai Firman, seorang penulis skenario yang dibujuk oleh temannya untuk mengambil sebuah proyek film berjudul Pocong Impoten. Tak ingin menggadaikan integritasnya, Firman tak menghiraukan tawaran tersebut dan lebih memilih untuk menulis naskah yang dianggapnya akan menjadi mahakarya yang dapat dibanggakannya. Tetapi, Firman sebenarnya mulai khawatir karena kondisi keuangannya sedang kritis, sementara ia punya seorang anak laki-laki yang harus ia nafkahi serta hutang yang harus segera dibayar.

Dalam Gelap bercerita tentang sepasang suami istri yang terkena imbas pemadaman bergilir, sehingga keduanya akhirnya terlibat dalam percakapan yang pahit. Saat lampu menyala, keduanya dapat mengalihkan perhatian masing-masing dan sibuk dengan urusannya sendiri. Kini, dalam kamar tidur mereka yang gelap, mereka terpaksa harus mengkonfrontasi masalah yang tak pernah mereka bahas sebelumnya. Tentang cinta, perselingkuhan, dan gairah yang sudah tak lagi berpijar antara keduanya. 

Dalam cerita yang terakhir, Darling Fatimah, seorang wanita keturunan Pakistan berusia 40-an tahun bernama Fatimah (Shahnaz Haque) sedang berjualan kue sambil adu mulut dengan seorang pemuda berumur 20-an tahun keturunan Cina, Ayun (Framly Nainggolan). Meski kata-kata yang dilontarkan keduanya terdengar kasar, namun yang diperdebatkan adalah masalah cinta, pernikahan, dan keluarga.

Sebagai sebuah film omnibus, Jakarta Hati kembali jatuh dalam perangkap yang sama. Sebagai sebuah film yang utuh, tiap segmennya terasa tidak imbang. Film ini sendiri seperti terbelah menjadi dua. Di bagian pertamanya, Jakarta Hati seperti memulai dengan tertatih-tatih dan bertutur dengan kaku. Meski bergantung sepenuhnya dari chemistry yang dihadirkan oleh dua pemerannya, Surya Saputra dan Asmirandah tak terasa sepenuhnya nyaman dengan masing-masing dalam Orang Lain. Masih Ada, meski ditunjang oleh penampilan apik Slamet Rahardjo, masih berusaha untuk menceritakan permasalahan sosial dan politik dengan klise. Kabar Baik, meski tak sebaik judulnya, ternyata bisa menghasilkan perasaan yang begitu beragam. Tak heran, karena dibandingkan dengan keenam cerita dalam Jakarta Hati, Kabar Baik memiliki backstory yang paling kaya dan paling berpotensi menguras simpati. Sayangnya, akting yang tak imbang antara Andika Pratama yang terlalu memaksakan perasaannya untuk tergambar jelas di layar, dan Roy Marten yang sangat santai dalam berekspresi membuat konsentrasi terbelah.

Di bagian kedua, Jakarta Hati bergerak dengan penceritaan yang lebih luwes, personal, dan menyajikan kisah-kisah yang terasa lebih mengena. Hadiah, yang bercerita tentang seorang penulis naskah yang berada di ujung tanduk terasa begitu natural. Mungkin, karena tokoh Firman adalah sosok yang sepenuhnya dapat dipahami oleh Salman Aristo. Sayangnya, meski Dwi Sasono bermain dengan baik, ketika fokus harus dibagi dengan anak laki-lakinya, cerita justru terasa tersendat. Sementara itu, segmen yang paling menonjol dalam Jakarta Hati adalah Dalam Gelap. Bagian ini cukup mengagumkan, karena kisah one shot sepanjang 19 menit ini harus diulang-ulang oleh kedua pemerannya, Agni Pratistha dan Dion Wiyoko, sampai 26 kali. Dalam Gelap terasa sangat dalam dan menghibur karena apa yang diceritakannya begitu gamblang dan sangat dipahami oleh penonton. Sayangnya, meski performa Agni dan Dion cukup baik, penonton tak dapat melihat wajah keduanya karena ruangan yang terlalu gelap. Bagian terakhir, Darling Fatimah, berpotensi untuk menggelitik penonton dan memancing tawa dengan rentetan dialog yang terasa sangat kasar namun lucu dari Shahnaz Haque. Meski ada perbedaan umur yang cukup jauh, chemistry antara Shahnaz dan Framly sebagai dua orang yang jauh berseberangan namun disatukan oleh hubungan cinta ini dapat cukup diterima. Darling Fatimah yang segar pun terasa cukup pas untuk menjadi penutup Jakarta Hati.

Secara keseluruhan, banyak bagian dari Jakarta Hati yang tak memuaskan. Memotret kota Jakarta secara intim memang tak mudah. Sebagian orang akan merasa bahwa Jakarta Maghrib (2010) lebih memiliki greget. Sementara surat cinta untuk Jakarta yang lebih manis dan menyentuh lebih dapat dirasakan dalam film seperti Lovely Man (2012). Tapi, bila yang dicari oleh film ini adalah hati dari ibukota, ia telah menemukannya. Dalam perpecahan, konflik, dan pertengkaran, kita telah menyaksikannya. Kota metropolitan ini bisa menjadi begitu dingin, pencemburu, gelisah, dan penuh amarah. Namun, hati Jakarta memang tak akan pernah berhenti berdegub.

Durasi: 114 menit
Tanggal Rilis: 8 November 2012 

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.