Review

Info
Studio : Lionsgate
Genre : Drama, Thriller, War
Director : Ralph Fiennes
Producer : Ralph Fiennes, John Logan, Gabrielle Tana, Julia Taylor-Stanley, Colin Vaines
Starring : Ralph Fiennes, Gerard Butler, Vanessa Redgrave, Brian Cox, Jessica Chastain

Rabu, 08 Agustus 2012 - 16:35:46 WIB
Flick Review : Coriolanus
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 2011 kali


Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan ketika ingin mengadaptasi sebuah karya literatur milik William Shakespeare menjadi sebuah film. Untuk Coriolanus, Ralph Fiennes – aktor watak asal Inggris yang untuk pertama kalinya duduk di kursi penyutradaraan – memindahkan latar belakang waktu dari penceritaan Coriolanus ke masa modern namun masih tetap mempertahankan penggunaan dialog-dialog asli yang terdapat dalam naskah drama panggung yang ditulis oleh Shakespeare pada sekitar tahun 1605 hingga 1608 tersebut. Perpaduan antara unsur klasik dan modern yang diterapkan oleh Fiennes inilah yang kemudian membuat Coriolanus mampu berjalan dinamis dalam menghantarkan penceritaannya.

Coriolanus berkisah mengenai konflik yang terus meruncing antara negara Roma dengan negara tetangganya, Volsci. Pertarungan itu sendiri telah menghadapkan seorang jenderal Roma, Caius Martius (Ralph Fiennes), dengan pimpinan pasukan Volsci, Tullus Aufidius (Gerard Butler), dan menjadikan mereka sebagai musuh abadi. Dalam serangannya terakhir ke Volsci, Martius akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Audifius dan memenangkan peperangan. Kemenangan tersebut kemudian disambut oleh para pemimpin Roma, khususnya General Cominus (John Kani) yang kemudian memberikan Martius nama ketiganya, Coriolanus.

Oleh sang ibu, Volumnia (Vanessa Redgrave), Martius didorong untuk menjadi konsulat bagi Senat Roma. Pemerintah sendiri sepertinya siap untuk menempatkan Martius sebagai salah satu konsulatnya. Namun, berkat kampanye gelap yang dilakukan oleh dua anggota senat, Brutus (Paul Jesson) dan Sicinius (James Nesbitt), yang takut kalau keambisiusan Martius akan merebut kekuasaan dari anggota senat, pemilihan Martius sebagai anggota Senat Roma akhirnya dibatalkan. Merasa marah, Martius kemudian meninggalkan keluarga dan negaranya untuk kemudian bergabung dengan pasukan Volsci yang dipimpin Aufidius. Keduanya lalu menyusun strategi untuk menyerang Roma dan mengambil alih kekuasaan wilayah tersebut.

Tema penceritaan Coriolanus yang berkisah mengenai intrik politik, balas dendam, drama keluarga hingga tragedi percintaan jelas masih mampu beradaptasi dengan penonton modern, khususnya dengan cara Ralph Fiennes menyajikan kisah tersebut. Tidak hanya memindahkan latar belakang waktu penceritaan ke masa yang lebih modern, Fiennes juga memilih untuk menghadirkan deretan adegan aksi yang dipenuhi kekerasan dan darah yang akan menjadikan Coriolanus terasa lebih hidup. Karakter-karakter yang hadir juga mampu digali dengan begitu baik sehingga, walaupun deretan karakter tersebut menggunakan tatanan bahasa yang kompleks, setiap karakter mampu tampil dengan ikatan emosional yang kuat.

Pemilihan talenta pada departemen akting jelas juga merupakan salah satu poin terpenting lainnya pada Coriolanus. Didukung dengan talenta-talenta akting seperti Fiennes, Gerard Butler, Vanessa Redgrave, Jessica Chastain dan Brian Cox, deretan dialog yang menggunakan struktur bahasa yang kaku dalam film ini kemudian mampu tampil layaknya deretan dialog yang berjalan alami. Penampilan mereka juga menjadi salah satu alasan mengapa karakter-karakter di dalam jalan cerita Coriolanus mampu tampil kuat, khususnya penampilan Fiennes yang memerankan karakter Caius Martius dan Redgrave yang memerankan Volumnia dengan begitu luar biasa.

Coriolanus juga semakin diperkuat dengan pemolesan tata produksi yang berkualitas tinggi. Tata musik arahan komposer Ilan Eshkeri mampu menghadirkan momen-momen yang emosional di berbagai adegan cerita film. Arahan musik Eshkeri juga terasa kuat di setiap adegan yang membutuhkan ketegangan lebih mendalam. Komposisi gambar arahan Barry Ackroyd juga berhasil tampil memukau. Secara keseluruhan, rasanya tidak salah untuk memberikan pengharapan yang besar kepada Fiennes sebagai seorang sutradara yang berhasil mengarahkan jalan cerita, akting para pemerannya sekaligus meramunya dengan tata produksi yang cemerlang.

Kalau boleh memilih, mungkin Coriolanus akan berjalan lebih baik jika Ralph Fiennes mau mengadaptasi karya William Shakespeare tersebut secara penuh: entah mengadaptasi Coriolanus menjadi sebuah film period atau menerjemahkannya ke latar belakang waktu penceritaan modern secara keseluruhan. Fiennes cukup mampu membuatCoriolanus berjalan dengan stabil, namun perpaduan antara elemen modern dan klasik seringkali membuat jalan ceritaCoriolanus terlihat membingungkan di beberapa bagiannya. Pun begitu, adalah menarik untuk menyaksikan karir penyutradaraan Fiennes di masa yang akan datang. Cukup menjanjikan.

 

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.