News


Kamis, 16 Mei 2019 - 23:46:38 WIB
John Wick: Chapter 3 Parabellum
Diposting oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 2 kali

Bermula dari film laga “kecil” tentang seorang mantan pembunuh bayaran yang membalas dendam kematian anjing kesayangannya di tahun 2014, John Wick (Keanu Reevers) telah mengembangkan semestanya dengan melibatkan sebuah organisasi rahasia yang pelik dan penuh intrik dalam John Wick: Chapter 2 (2017). Kini, melengkapi kisahnya, menyusul pula John Wick: Chapter 3 – Parabellum.

Tanpa basa-basi, plot merupakan kelanjutan langsung dari adegan akhir Chapter 2, di mana John harus melarikan diri karena mendapatkan cap maut “excommunicado” dari The High Table setelah melakukan pelanggaran besar dengan melakukan pembunuhan di wilayah netral seperti Continental Hotel.

Adegan laga pun hadir tanpa basa-basi, saat John harus bertahan hidup dari serangan pembunuh bayaran lain yang mengincarnya. Atas bantuan The Director (Anjelica Huston), salah satu petinggi The High Table yang merupakan mantan mentor John, ia berhasil menyebrang ke Casablanca, Maroko.

Dengan pertolongan teman lamanya, Sofia (Halle Berry), John mencoba bertemu dengan The Elder (Saïd Taghmaoui) sosok yang dituakan dalam The High Table guna meminta pengampunan. John mendapatkan apa yang diinginkannya, namun dengan syarat harus membunuh pengurus Continental Hotel New York sekaligus sahabatnya, Winston (Ian McShane).

Sementara itu The Adjudicator (Asia Kate Dillon) ditugasi untuk menyelidiki kasus John Wick selain melucuti kekuasaan Winston dan penguasa kalangan gelandangan, The Bowery King (Laurence Fishburne) yang dianggap telah membantu sang buronan. Tidak hanya itu, The Adjudicator mengajak Zero (Mark Dacascos) dan gerombolannya untuk memburu John.

Semakin rumit dan semakin ruwet. Demikian kesan yang bisa ditarik sehabis menyimak plot Parabellum ini. Kadang memang menarik, namun sayangnya kadang juga terlalu mengada-ada.

Dibandingkan Chapter 2 yang organis dan memiliki urgensi secara lebih signifikan, maka naskah tulisan Derek Kolstad bersama dengan Shay Hatten, Chris Colllins dan Marc Abrams untuk Parabellum agak terasa mengulur-ulur garis cerita yang sebenarnya tipis, sehingga tidak sepadat film sebelumnya. Momen dramatiknya juga dibangun dengan agak tergagap, sehingga muatan emosionalnya tidak sedalam seperti apa yang diniatkan.

Untungnya pengarahan masih dipegang oleh Chad Stahelski yang makin piawai dalam membungkus barisan adegan laga mengagumkan. Tidak hanya menawarkan intensitas, tapi juga variatif. Antara satu adegan aksi dengan yang lainnya sajian Parabellum digedor dengan menarik dan memiliki pendekatan berbeda, sehingga tidak repetitf dan terhindar dari kesan monoton/membosankan. Imbuhan adegan komikal atau komedi layak pula mendapat acungan jempol karena menjadi oase tersendiri sebagai jeda sejenak dari ketegangan

Dengan Parabellum, juga Stahelski membuktikan jika John Wick masih merupakan franchise aksi Hollywood terkemuka masa kini. Tidak ada editing super cepat ala tipikal Hollywood, karena shot-shot panjang dan nyaris tidak terputus masih menjadi andalan. Stahelski menyadari dengan baik, ibarat tari dan nyanyi untuk film musikal, maka adegan laga adalah jiwa sebuah film aksi, sehingga harus dieksekusi dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar tempelan, tapi adalah alur utama dari kisanya itu sendiri.

Jika selama ini merasa franchise John Wick sedikit banyak agak dipengaruhi oleh seri aksi terkemuka Indonesia, The Raid, maka Parabellum menegaskan hal tersebut dengan menghadirkan duo Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman sebagai salah dua lawan jagoan kita.

Stahelski patut dipuji karena menghadirkan dua ikon laga Indonesia ini dalam karakter dengan peran yang substansial, bukan sekedar numpang lewat. Disiapkan pula di penghujung untuk berduel dengan Keanu dalam adegan yang boleh dikatakan sebagai salah satu yang mencuri perhatian dalam Parabellum. Harus diakui adegan Keanu bersama mereka bahkan terlihat lebih seru dan mendebarkan ketimbang duel final bersama karakter yang diperankan Dacascos, yang seharusnya menjadi klimaks dari film.

Jadi, terlepas dari beberapa kekurangan mengganjal, John Wick: Chapter 3 – Parabellum tetap merupakan salah satu sinema pop kontemporer gemilang. Reeves menegaskan jika ia dan John Wick kini adalah satu kesatuan utuh dan telah menjadi bagian kultur pop tak terbantahkan.

Dan kalau mengira petualangannya akan berakhir sampai di sini, rasa-rasanya bukan sebuah spoiler jika disebutkan kita masih akan bertemu lagi dengan dirinya di kesempatan berikutnya.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.