News


Rabu, 13 Maret 2019 - 19:27:28 WIB
A Private War
Diposting oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 208 kali

Merupakan film cerita perdana yang disutradarai oleh Matthew Heineman yang sebelumnya lebih dikenal atas pengarahannya bagi film-film dokumenter seperti Cartel Land (2015) – yang mendapatkan nominasi Best Documentary Feature di ajang The 88th Annual Academy Awards – serta City of Ghosts (2017), A Private War adalah sebuah drama yang mengupas sekelumit kisah dari kehidupan wartawan perang legendaris asal Amerika Serikat, Marie Colvin. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Arash Amel (Grace of Monaco, 2014) berdasarkan artikel tentang Colvin, Marie Colvin’s Private War, yang ditulis oleh Marie Brenner untuk majalah Vanity Fair, A Private War mencoba untuk menyelami jiwa dan pemikiran Colvin (Rosamund Pike) yang terus mendorongnya untuk maju ke garda terdepan deretan konflik dan peperangan yang ada di berbagai belahan dunia guna mendapatkan sajian berita dengan nilai kebenaran yang akurat. Keberanian (dan kejujuran) yang membuatnya menjadi salah satu jurnalis paling dihormati dunia hingga saat ini. 

Berusaha untuk memberikan garapan yang sesuai atas perjalanan panjang karir Colvin – yang telah meliput dan terjun langsung ke berbagai wilayah konflik dunia seperti Timur Tengah, Chechnya, Kosovo, Timor Timur, Sri Lanka, Libya, hingga Syria semenjak ia bekerja sebagai jurnalis di The Sunday Times pada tahun 1985 – jelas bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Pilihan Heineman dan Amel untuk mengerdilkan wilayah penceritaan A Private War hingga beberapa tahun sebelum liputan terakhir Colvin yang dilakukannya di Syria pada tahun 2012 terasa cukup cerdas, khususnya ketika Amel berhasil membangun momen-momen dalam linimasa pengisahan tersebut menjadi momen-momen yang sekaligus dapat memberikan penonton sudut pandang yang efektif akan kehidupan Colvin – baik dari sisi karir maupun personalnya. Sayangnya, pengisahan A Private War terasa lebih berminat untuk mengisahkan kehidupan sang karakter utama berdasarkan deretan peperangan yang ia lalui daripada memberikan sentuhan yang lebih intim dan personal melalui pemikiran-pemikiran Colvin. Bukan sebuah penggarapan cerita yang buruk namun kurang mampu untuk tampil lebih mengikat.

Usaha untuk menghadirkan rangkuman deretan konflik yang dilalui oleh karakter Marie Colvin dalam naskah cerita A Private War juga berdampak tidak terlalu baik bagi pengembangan berbagai konflik maupun karakter sekunder yang berada di sekitar karakter utama. Banyak karakter pendukung dalam film ini, mulai dari karakter Sean Ryan (Tom Hollander) yang merupakan pimpinan dari karakter Marie Colvin, fotografer Paul Conroy (Jamie Dornan) yang menemani karakter Marie Colvin hingga akhir hayatnya, hingga karakter Tony Shaw (Stanley Tucci) yang menjalin hubungan asmara dengan karakter Marie Colvin, tampil dengan galian kisah yang begitu dangkal – jika tidak ingin menyebut kehadiran mereka sebagai sia-sia. Hal yang sama juga terasa pada problema kejiwaan yang dikisahkan terjadi pada sang karakter utama yang tidak pernah mampu disampaikan secara kuat dan utuh. Padahal, banyak diantara karakter pendukung dan konflik sampingan yang disajikan A Private War mampu menciptakan sentuhan-sentuhan emosional di sepanjang 110 menit durasi pengisahan film.

Dengan pengalamannya dalam menggarap film-film dokumenter yang juga membahas berbagai konflik dan peperangan, tidak mengherankan jika Heineman mampu menghadirkan banyak ketegangan dalam alur pengisahan A Private War. Gambaran akan dunia konflik, yang seringkali dikisahkan menjebak karakter Marie Colvin untuk berada di pertengahannya, berhasil digarap dengan kualitas produksi yang akan mampu membuat penonton turut terlibat dalam konflik-konflik tersebut. Gambaran yang diciptakan Heineman akan peperangan Syria, khususnya, menjadi salah satu momen terkuat yang hadir dalam film ini. Pengarahan Heineman sendiri tidak selamanya berlangsung sukses. Dengan sempitnya wilayah pengisahan dalam naskah cerita A Private War, pengarahan Heineman beberapa kali terasa goyah dengan kehadiran ritme pengisahan yang tidak stabil. Kadang terasa menghabiskan waktu terlalu lama dengan berjalan perlahan dan kadang terasa terlalu memburu untuk menuturkan kisahnya.

Terlepas dari berbagai kelemahan yang ada, satu hal yang pasti, Pike tampil fantastis sebagai Marie Colvin. Penampilan prima Pike adalah alasan terkuat mengapa A Private War tidak pernah terasa membosankan meskipun tampil dengan banyak momen penceritaan yang kurang tergarap rapi. Pike tidak hanya memberikan karakternya penampilan luar fisik yang menyerupai seorang Marie Colvin. Penjiwaan Pike akan karakternya hadir dengan daya tarik dan kharisma yang begitu meyakinkan – mulai dari ketangguhan, keberanian, hingga momen-momen kerapuhan seorang Marie Colvin. Jelas merupakan salah satu penampilan akting terbaik Pike di sepanjang karirnya.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.