News


Sabtu, 12 Januari 2019 - 17:58:08 WIB
Escape Room
Diposting oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 189 kali

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang mengawali karir penyutradaraannya secara cukup menjanjikan melalui The Taking of Deborah Logan (2014) namun lantas melanjutkannya dengan Insidious: The Last Key (2018) yang menjadi bagian terburuk dalam seri film Insidious hingga saat ini, Escape Room berkisah mengenai enam orang karakter yang berusaha untuk keluar dari sebuah permainan yang menjebak mereka. Zoey Davis (Taylor Russell), Ben Miller (Logan Miller), Amanda Harper (Deborah Ann Woll), Mike Nolan (Tyler Labine), Jason Walker (Jay Ellis), dan Danny Khan (Nik Dodani) awalnya mendapat undangan untuk mengikuti sebuah permainan yang mengharuskan mereka untuk memecahkan deretan teka-teki dengan hadiah sebesar US$10 ribu jika mereka dapat menyelesaikan permainan tersebut. Tanpa disangka, permainan yang awalnya dikira hanya untuk bersenang-senang kemudian berubah menjadi perangkap dengan setiap tahapan permainannya menghadirkan bahaya yang dapat membunuh mereka. 

Memang, sama sekali tidak ada formula pengisahan yang benar-benar baru dalam naskah cerita garapan Bragi Schut (Season of the Witch, 2011) dan Maria Melnik untuk film ini. Tema horor “selesaikan teka-teki yang diberikan untuk dapat bertahan hidup” memang telah dieksplorasi Hollywood lewat film-film semacam Cube (Vincenzo Natali, 1997), Saw (James Wan, 2004), hingga Would You Rather (David Guy Levy, 2012). Meskipun begitu, Schut dan Melnik cukup mampu untuk menghasilkan deretan desain teka-teki yang cukup menarik untuk diikuti sekaligus secara cerdas menjadikan teka-teki tersebut sebagai paruh cerita untuk memperdalam kisah dari masa lalu setiap karakter yang kemudian membentuk sebuah koneksi mengenai keberadaan enam karakter tersebut. Sayang, kualitas cerita secara cepat terasa menurun pada paruh akhir film dimana Escape Room terasa kebingungan untuk memberikan sebuah konklusi yang kuat dan kemudian justru memaksakan diri untuk menyajikan sebuah open ending dimana penonton dapat mengharapkan adanya kehadiran sebuah sekuel bagi film ini.

Pengarahan Robitel sendiri menjadi elemen yang cukup krusial bagi kesuksesan perjalanan cerita Escape Room. Walau keputusannya untuk menyajikan sebuah potongan adegan dari bagian pertengahan cerita ke awal film terkesan sedikit aneh – khususnya setelah nantinya Anda menyadari bahwa “pilihan artistik” tersebut sama sekali tidak memberikan kontribusi kualitas apapun, Robitel dengan cekatan menyajikan filmnya dengan tempo pengisahan yang cepat dan teratur. Penonton memang akan dapat dengan mudah menebak kemana arah film ini berjalan namun Robitel berhasil menjaga kejutan maupun ketegangan pada banyak bagian film dengan baik. Desain produksi akan setiap teka-teki yang dihadapi oleh para karakter film juga berhasil tergarap meyakinkan. Berbagai pencapaian ini dengan mudah menjadikan Escape Room sebagai kinerja terbaik dalam filmografi Robitel – dan membuat kesalahannya dalam Insidious: The Last Key yang benar-benar menyebalkan tersebut sedikit termaafkan.

Salah satu hal yang juga membuat Escape Room dapat tampil prima adalah para karakternya yang dirancang untuk begitu mudah disukai. Tidak seperti kebanyakan film dengan tema pengisahan serupa, tidak satupun karakter dalam film ini diciptakan untuk menghasilkan sosok karakter “penjahat” atau sosok yang bagi penonton pantas untuk dikorbankan terlebih dahulu. Para pengisi departemen akting film ini mampu menghadirkan penampilan yang begitu humanis bagi setiap karakter yang mereka perankan. Seperti kualitas film ini secara keseluruhan, karakter-karakter dalam film ini mungkin merupakan deretan karakter yang akan dapat dengan mudah dilupakan penonton. Meskipun begitu, dalam 100 menit perjalanan kisahnya, Escape Room dan karakter-karakternya setidaknya berhasil memberikan perjalanan ketegangan yang jelas jauh dari kesan membosankan.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.