Feature


Selasa, 10 Agustus 2021 - 23:45:16 WIB
Angkat Soal Kekerasan Seksual, Wregas Bhanuteja Debut Film Panjang Pertamanya, Penyalin Cahaya
Diposting oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 156 kali

Setelah merampungkan rangkaian proses produksi selama lebih dari setahun sejak 2020 di Jakarta dan sekitarnya, sutradara muda pemenang film pendek terbaik di Semaine de la Critique-Cannes Film Festival 2016 dan dua kali Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) untuk film pendek terbaik, Wregas Bhanuteja, akhirnya mengumumkan judul dan cerita film panjang pertamanya. Judul film yang diproduksi Rekata Studio dan Kaninga Pictures ini adalah Penyalin Cahaya

Berikut sinopsis lengkapnya: 

"Usai swafotonya dalam keadaan mabuk beredar, SUR harus kehilangan beasiswanya karena dianggap mencemarkan nama baik fakultas. Sur tidak mengingat apapun yang terjadi pada dirinya tadi malam. Ini adalah kali pertama Sur datang ke pesta kemenangan komunitas teater di kampusnya, dan mendapati dirinya tidak sadarkan diri. Sur meminta bantuan AMIN, teman masa kecilnya, seorang tukang fotokopi yang tinggal dan bekerja di kampus, untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya di malam pesta."

Cerita film Penyalin Cahaya tak lahir begitu saja, tapi karena pengamatan dari Wregas, yang juga menulis skenario film ini. Lebih lanjut Wregas mengatakan, "Latar belakang yang paling kuat dalam membuat Penyalin Cahaya adalah banyaknya kejadian dari para penyintas kekerasan seksual yang mendapat ketidakadilan. Adanya berbagai macam stigma dan ketiadaan support system, ruang aman, dan pengetahuan masyarakat akan kekerasan seksual menjadi salah satu penyebab para penyintas memutuskan untuk memendam kejadian kekerasan yang mereka alami. Film ini adalah suara untuk melawan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat kita hari ini.”

Adi Ekatama, produser film Penyalin Cahaya dari Rekata Studio, juga mengutarakan hal senada dengan Wregas. Menurutnya, cerita Penyalin Cahaya mengangkat topik penting yang masih perlu mendapat banyak perhatian dari seluruh kalangan masyarakat hari ini. "Perjuangan Sur sebagai tokoh utama di film ini untuk mengungkap kebenaran adalah gambaran di mana kita harus selalu berpihak pada penyintas dan lebih banyak menyuarakan pada masyarakat mengenai pentingnya kita melawan kekerasan dan pelecehan seksual,” jelas Adi. 

"Lewat cerita film ini, semoga semakin banyak orang memahami berbagai macam lapisan subjek yang diangkat di dalam film ini, sehingga mendorong terciptanya environment yang benar-benar aman dan mampu melindungi seluruh golongan masyarakat dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya," lanjut Adi, yang sebelumnya juga memproduseri film pendek Wregas yang berjudul Tak Ada yang Gila di Kota Ini.

Hal senada juga diutarakan oleh produser film Penyalin Cahaya, Ajish Dibyo. Menurutnya, film adalah salah satu medium yang paling efisien untuk berargumen. Untuk itu di sini kami perlu menyuarakan hal-hal yang penting untuk didiskusikan masyarakat demi terciptanya lingkungan yang lebih aman. “Mengembangkan cerita ini bersama Adi dan Wregas adalah salah satu upaya kami untuk memperbaiki hal-hal yang dapat merugikan kemanusiaan, yang dalam film ini adalah kekerasan seksual,” ujar Ajish, yang sebelumnya terlibat di sejumlah produksi film sebagai produser dan produser pelaksana, seperti Turah, Soekarno, Sultan Agung, Kartini, Rudy Habibie, dan sebagainya.

Dalam film ini, Rekata Studio berkolaborasi dengan produser Willawati bersama Kaninga Pictures. Kaninga Pictures sendiri adalah sebuah rumah produksi yang pernah memproduksi film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017).

Wregas Bhanuteja sendiri sebelum membuat Penyalin Cahaya sudah berkarya dengan membuat film-film pendek yang mencuri perhatian publik dan sirkuit festival film di dalam maupun luar negeri. Antara lain, Lemantun (pemenang Film Pendek Terbaik di XXI Short Film Festival 2015), Lembusura (berkompetisi di Berlin International Film Festival 2015), Prenjak (pemenang Film Pendek Terbaik di Semaine de la Critique-Cannes Film Festival 2016 dan Piala Citra FFI 2016), serta Tak Ada yang Gila di Kota Ini (pemenang Piala Citra FFI 2019 dan berkompetisi di Sundance Film Festival 2020). 

Film Penyalin Cahaya merupakan produksi film panjang pertama dari Rekata Studio yang berkolaborasi dengan Kaninga Pictures. Produksi film ini diperkuat oleh akting para aktor-aktris muda maupun senior, serta kru-kru film yang sudah berpengalaman dalam industri film Indonesia. Di tengah kelesuan produksi film Indonesia akibat kondisi pandemi, Rekata Studio dan Kaninga Pictures tetap terus berkarya dengan melakukan proses pengambilan gambar (shooting) film Penyalin Cahaya dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Dalam waktu dekat, film Penyalin Cahaya juga akan mengumumkan jajaran pemainnya.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.