Feature


Kamis, 22 November 2018 - 19:00:05 WIB
Wawancara dengan Ralph Fiennes Mengenai Film Terbarunya The White Crow
Diposting oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 218 kali

Wawancara oleh Daniel Irawan (@danieldokter) di Tokyo, Jepang.

Datang mempresentasikan filmnya untuk bersaing dalam 16 film kompetisi utama di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-31, The White Crow adalah karya penyutradaraan ketiga Ralph Fiennes setelah Coriolanus (2011) dan The Invisible Woman (2013).  Bersama penayangan world premiere-nya di Telluride Film Festival pada Agustus lalu, The White Crow yang diproduksi BBC Films ini juga akhirnya mendarat di Sony Pictures Classics sebagai distributor Amerika Utara serta sebagian Eropa dan Asia. Setelah itu, The White Crow juga mendapat slot UK premiere di BFI London Film Festival di bulan yang sama.

The White Crow merupakan sebuah biopic yang mengangkat sejarah desersi penari balet ternama Rusia, Rudolf Nureyev, yang membelot dari negaranya ke Paris di tahun 1961. Diperankan penari balet asli asal Ukraina Oleg Ivenko dalam debut aktingnya, juga Fiennes yang ikut bermain sebagai pendukung utama memerankan mentornya – Alexander Pushkin, penayangan publiknya di TIFF memperoleh sambutan luar biasa sekaligus menyabet Piala Pencapaian Artistik Terbaik dari dewan juri internasional TIFF ke-31 yang diketuai sineas Filipina Brillante Ma Mendoza dan anggota juri produser blockbuster Bryan Burk (AS), sutradara arthouse Stanley Kwan (Hong Kong), aktris Kaho Minami (Jepang) dan Taraneh Alidoosti (Iran).

Selain menyapa langsung audiens dan para penggemarnya di Jepang lewat sesi stage appearance dan tanya jawab, Fiennes juga menyediakan waktunya untuk sejumlah wawancara dengan media yang hadir. Berikut adalah kutipan wawancaranya. 

Kenapa Rudolf Nureyev?

Saya sangat tertarik dengan kisah penyeberangan Nureyev dari negaranya ke Barat sejak lama, bahkan sebelum saya memutuskan untuk menyutradarai The White Crow. Kisah seorang anak muda dengan kepribadian dan keinginan begitu kuat sekaligus menyadari potensinya, talentanya, dan akhirnya harus berada pada persimpangan penting dalam hidupnya untuk membuat sebuah pilihan hidup. Berada di antara dua ideologi untuk suatu keputusan besar, menurut saya adalah ide yang sangat hebat sekaligus sinematis.

Saya juga sangat tergerak mengeksplorasi semua keinginan, rasa lapar dan ambisinya untuk berekspresi dalam bentuk-bentuk seni, dan bahwa ada kekayaan karakter dari Nureyev di balik sikap pembangkangnya. Ide tentang mengangkat kisah hidup Nureyev datang sejak lama, mungkin sudah 20 tahun, dan saya sudah membuat dua film dengan produser saya, Gabby (Gabrielle Tana) yang juga punya latar belakang ballet. Gabby akhirnya datang pada saya setelah dua film itu dan menanyakan apakah saya bersedia membuat The White Crow, dan jelas saya tidak menolak ajakan ini.

Sama seperti Nureyev, saya juga bisa merasakan hasrat Anda yang begitu besar dalam film sebagai bentuk seni lewat performa-performa Anda di film, juga pidato singkat Anda di malam pembuka. Anda mengatakan kita tengah berada dalam bahaya sering melupakan betapa pentingnya film dalam kehidupan. Apakah ini memang menjadi keresahan Anda atas eksistensi film sekarang ini?

Begini. Film dan filmmaking, menurut saya selalu bisa menjadi penghubung komunikasi sekaligus juga pembawa pesan yang kuat dalam hal apapun. Sinema sebagai propaganda ada di mana-mana, namun sangat penting kala ia digerakkan sebagai propaganda terhadap kemanusiaan. Dengan apa yang terjadi di dunia saat ini, krisis-krisis identitas demokrasi, saya merasa film punya potensi untuk mengekspresikan perjuangan itu.

Anda baru saja menerima penghargaan dari European Film Academy (EFA) untuk pencapaian karir Anda di film (European Achievement in World Cinema Award for British Actor) di European Film Awards barusan. Seberapa penting arti penganugerahan penghargaan terhadap karya-karya Anda?

Its flattering, of course. Namun yang penting bagi saya adalah bagaimana karya kita bisa diterima banyak orang, termasuk terpilih untuk berkompetisi menjadi yang terbaik di TIFF, itu merupakan sebuah validasi yang lebih besar. Begitu juga, penghargaan di European Film Awards, saya merasa sangat terhormat, apalagi karena saya adalah orang Inggris yang jelas terkait ke Eropa dalam masyarakat yang lebih besar. Namun bukan berarti lantas membuat saya berhenti tapi justru semakin ingin membuat karya-karya yang lebih baik lagi.

Anda menggunakan banyak aktor Rusia asli dalam The White Crow. Adakah perbedaannya dengan aktor-aktor Inggris dan Amerika yang sering bekerja dengan Anda selama ini?

Menurut saya Rusia merupakan salah satu negara penghasil aktor terbaik di dunia karena mereka memiliki tradisi teater yang sangat kuat serta mengakar. Adalah impian saya bekerja dengan aktor-aktor Rusia sejak lama karena saya mendengar standar pelatihan mereka benar-benar kuat dan baik, dan sama seperti saya yang datang dari latar teater sebagai panggung pertunjukan. Saya percaya aktor dengan latar belakang teater selalu akan lebih konsisten dan ekspresif dalam berakting. Chulpan Kamatova, misalnya (pemeran istri karakter Pushkin yang diperankan Fiennes), begitu ia masuk ke set, saya rasanya sudah tak perlu berkata apa-apa lagi karena ia sudah tahu betul karakter yang akan ia mainkan. Begitu juga Alexey Morozov (berperan sebagai Strizhevsky dalam filmnya). Mereka adalah aktor-aktor hebat yang tak jarang membuat saya begitu kagum dengan aktingnya.

Menyutradarai sekaligus bermain dalam sebuah film tentunya punya tantangan lebih, tapi Anda bermain dalam ketiga film yang Anda sutradarai. Apa yang Anda rasakan tentang hal ini dan bagaimana cara Anda mengatur keseimbangannya?

Hmmm... I cross my fingers and hope (tertawa). Tidak, saya sebenarnya sudah merasakan kesulitannya lewat dua film terdahulu dan karena The White Crow memang menjadi impian saya sejak lama, saya tidak pernah bermaksud untuk ikut bermain sebagai Pushkin di sini agar bisa lebih fokus dalam penyutradaraan. Namun yang terjadi adalah ketika kami mengumpulkan investor untuk film ini, atas saran sebagian orang termasuk sales agent saya, saya juga terpaksa menyadari bahwa keikutsertaan saya sebagai cast bisa lebih membantu. Punya lebih banyak nama internasional tentu akan lebih mengangkat penjualannya. Setelah saya memutuskan untuk ikut main, memang masih ada tantangannya karena saya harus berbahasa Rusia di sini.

Namun untungnya apa yang dilakukan David Hare di skripnya dalam pengembangan karakter Pushkin membuat saya yakin bahwa ini adalah karakter guru yang sangat kuat. Ia adalah guru yang kuat, bukan tradisional; yang selalu mendorong muridnya dan tak serta-merta menuntut mereka selalu benar melainkan belajar dari kesalahan. Saya juga berdiskusi banyak tentang pengembangan karakter ini dengan script supervisor saya, Susanna Lenton, yang juga bekerja bersama saya di dua film sebelumnya. 

Ada dialog dalam The White Crow yang mengatakan “Ballet is all about rules”. Bagaimana dengan filmmaking menurut Anda?

Saya tak merasa balet adalah semua soal aturan. Begitu juga dalam film, banyak sekali aturan dalam filmmaking yang dilanggar oleh sutradara-sutradara hebat. Sebuah bentuk seni selalu bisa menemukan bahasa yang sama di antara orang-orangnya untuk menjadi tak terlalu kaku dan bisa terus berkembang. Ada aturan-aturan baku dalam lighting, sound, sinematografi, dan yang lain dalam standar keahlian teknikal, namun mungkin sutradara bisa lebih bebas menentukan keputusan-keputusan kreatifnya di lapangan; mau mengikuti aturan-aturan klasik atau mendobraknya.

Apakah ada departemen lain dalam filmmaking yang ingin Anda lakukan selain akting dan penyutradaraan?

Ada interpretasi dan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas dalam editing, saya ingat bahwa editor saya di Coriolanus dan The Invisible Woman, Nick (Nicolas) Gaster, mengatakan bahwa editing seperti membuat musik dan puisi. Adalah hal penting bagi sebuah film untuk mendapat editor yang baik, yang bisa memberi pengertian apa yang bisa atau tidak bisa Anda lakukan dalam membungkus. Barney Filling (editor The White Crow) adalah editor yang sangat baik. Ia membantu saya mengungkap banyak sekali hal dalam penceritaan The White Crow, seperti ketika saya rasa saya merasa kesulitan dalam bercerita, ia membuka pintu untuk ruang gerak yang lebih. So, saya rasa, ya, editing sangat menarik perhatian saya.

Oleg Ivenko bermain bagus sekali sebagai Nureyev. Bagaimana caranya mendapatkan dia?

Adalah hal yang sulit untuk mendapatkan aktor untuk memerankan Rudolf Nureyev, dan dari awal saya memang mencari penari balet asli untuk memerankannya. Akan lebih sulit mencari aktor tanpa latar belakang balet karena pengadeganannya. Oleg datang kepada saya dan membuat saya yakin bahwa ia bisa memerankan Nureyev muda dengan aspek-aspek kasar dan negatif dalam kelakuannya tanpa harus menjadi monster, juga sensitivitasnya membawakan sisi halus dari Nureyev. 

The White Crow tampil sangat autentik dari sisi set; tempat dan waktu, juga bahasa. Seberapa besar tantangannya dibandingkan film-film Anda yang terdahulu, termasuk The Invisible Woman yang juga merupakan sebuah biografi?

The White Crow punya kesulitan sangat tinggi dalam sisi komersil karena kisahnya memuat interaksi antara negara dan bangsa. Saya ingin orang Rusia berbahasa Rusia, Prancis berbahasa Prancis, dan ini memang resiko karena sales agent dan beberapa produser lain biasanya akan lebih senang kalau keseluruhan film lebih banyak menggunakan bahasa Inggris (tertawa). Untungnya karakter Rudy (Rudolf) memang aslinya bisa berbahasa Inggris sesuai sejarahnya. Ia menggunakan bahasa Inggris selama berada di Prancis. Syukurlah kami bisa mengatasinya, bahwa beberapa adegan terbaiknya menggunakan bahasa Rusia juga. Tapi memang saya ingin aspek bahasa itu tampil lebih autentik. Saya rasa masa-masa ketika seorang aktor berbahasa Inggris menggunakan dialek untuk menunjukkan karakternya non-Inggris tak lagi bisa diterima sekarang.

Saya pernah menokohkan karakter Hongaria dalam Sunshine (1999, István Szabó) dimana semua aktornya adalah aktor Inggris dan berbahasa Inggris, bukan aktor Hongaria. Bukan tak mungkin, saya juga sangat menikmati pembuatan film itu sekaligus hasilnya, tapi dalam konteks artistik, sebenarnya yang paling benar adalah menggunakan aktor atau bahasa Hongaria. Saya rasa kebanyakan kritikus sekarang juga akan mengkritik film-film seperti itu, yang menggunakan bahasa Inggris dengan aksen untuk menggambarkan karakter non-Inggris. Saya ingin menantang cara-cara gampang dengan meng-Inggris-kan semua dialog seperti itu walaupun penjualannya terutama di Amerika akan menjadi lebih sulit karena penonton-penonton sekarang tak begitu suka pembubuhan teks. Tapi bagi saya, penting sekali untuk membangun autentisitas dalam membuat film. Saya tumbuh besar menyaksikan film-film asing dengan teks dan saya tak punya masalah dengan itu. Saya justru tak nyaman bila semua bahasa harus diseragamkan seperti penggunaan dubbing. Tapi yah, beberapa negara masih men-dubbing film-film asing dari luar negaranya (tertawa).

Schindlers List akan berusia 25 tahun di tahun depan dan di beberapa negara akan kembali ditayangkan di layar lebar. Apa arti film itu bagi Anda? Apakah sama seperti yang dianggap banyak orang soal mengubah hidup Anda?

Ya, saya tidak menampik hal itu. It is big, big, big. Schindlers List sangat besar dan saya mengerti film itu pada masanya adalah passion project bagi Spielberg yang bukan juga baru membuat film. Semua aktor termasuk saya bisa melihat, merasakan dan akhirnya punya hasrat yang sama untuk memberikan yang terbaik. Hidup saya memang berubah, semua sorotan datang pada kami, tawaran dan nominasi berdatangan, dan saya sangat menghargai itu. Berada dalam sebuah film dalam level pengenalan berikut pengakuan sebesar itu adalah hal yang sangat hebat bagi seorang aktor.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.