News


Minggu, 19 Mei 2019 - 23:44:09 WIB
Polaroid
Diposting oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 2 kali

Setelah nasibnya sempat terkatung-katung (awalnya diniatkan dirilis di tahun 2017), akhirnya film horor adaptasi Lars Klevberg untuk film pendeknya yang berjudul Polaroid, bisa disaksikan. Tapi, sebagaimana biasanya film yang terus menerus mengalami pengunduran tanggal tayang, momentumnya telah lewat. Semakin tidak membantu karena ia ternyata adalah film berkualitas semenjana dan mudah terlupakan.

Secara premis, Polaroid agak mengingatkan akan Shutter (2014), film horor asal Thailand yang cukup terkemuka di era 2000-an, yaitu tentang sosok supernatural yang merasuki sebuah kamera. Dalam Polaroidtentu saja kamera yang dimaksud adalah sebuah kamera polaroid.

Semua berawal dari Bird Fitcher (Kathryn Prescott) seorang siswi SMA yang menerima sebuah kamera polaroid antik. Saat satu persatu teman-temannya yang kebetulan difoto dengan kamera tersebut menemui kematian, maka Bird harus memecahkan misteri yang terjadi.

Kisah dalam Polaroid memang baku dalam ranah horor seperti ini, namun bukan berarti tidak bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bernas, provokatif atau menantang secara ide. Sayangnya hal-hal tersebut tidak bisa kita temui dalam Polaroid.

Naskah tulisan Blair Butler berjalan dengan mode auto-pilot, sehingga alurnya terlalu terduga. Ada beberapa upaya memberi semacam twist, yang sebenarnya cukup menarik, namun sayang tidak dibangun dengan elaborasi yang baik, sehingga malah terasa tanggung.

Untungnya Polaroid tidak begitu membosankan untuk disimak, karena sebenarnya Klevberg cukup tangkas dalam mengeksekusi adegan yang kompeten. Tidak heran jika sutradara asal Norwegia ini kemudian ditarik untuk menggarap reboot Child’s Play yang juga akan dirilis di tahun ini.

Jika dicermati, Klevberg memiliki kemampuan lumayan baik dalam membangun atmosfer dan ketegangan. Terlepas dari teknik penerangan yang senantiasa remang-remang, perpaduan antara gaya ala slasher dan horor atmosferik disajikan Klevberg dengan mulus.

Hanya saja, memang terlalu banyak hal familiar dalam Polaroid untuk membuat kesan lebih. Klise demi klise disajikan di layar, sehingga nyaris hampir semua adegan kehilangan unsur suspensinya, akibat sudah terlalu tertebak. Polaroid terlalu patuh pada formula sehingga tidak memiliki unsur kejut lagi.

Akhirnya, sebagai sebuah film dengan orisinalitas nyaris absen dan terlalu mengandalkan formula menjadikan Polaroid sebagai tontonan yang jenerik. Tontonan yang disimak tidak ada ruginya, tapi dilewatkan juga bukan masalah besar.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.