News


Rabu, 13 Februari 2019 - 16:53:53 WIB
Laundry Show
Diposting oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 247 kali

Diadaptasi dari novel The Laundry Show karangan Uki Lukas, film terbaru arahan Rizki Balki (A: Aku, Benci & Cinta, 2017), Laundry Show, berkisah mengenai Uki (Boy William) yang karena telah merasa jenuh dengan perjalanan karirnya kemudian memilih untuk berhenti dari pekerjaannya. Dengan modal semangat yang diberikan oleh seorang motivator terkenal dan inspirasi dari sang ibu yang sempat bekerja sebagai seorang tukang cuci, Uki lantas mendirikan usaha layanan binatu. Membangun dan memulai usaha sendiri jelas bukanlah pekerjaan yang gampang. Bahkan setelah Uki berhasil menemukan lokasi usaha yang tepat, berbagai perlengkapan kerja, hingga para karyawan yang dapat mendukung usaha layanan binatunya tersebut, Uki masih harus memutar otak untuk dapat mencari cara agar usaha layanan binatunya mampu menarik perhatian banyak konsumen. Namun, tantangan terbesar bagi usaha layanan binatu milik Uki datang ketika sebuah usaha layanan binatu lain yang lebih besar, didukung teknologi yang lebih modern, serta mampu menawarkan banyak potongan harga kemudian dibuka tepat di hadapan lokasi usaha layanan binatu milik Uki. Perseteruan antara Uki dengan pemilik usaha layanan binatu baru tersebut, Agustina (Giselle Anastasia), kemudian mulai memanas. 

Hadir dengan tema kewirausahaan yang cukup segar dan masih belum begitu sering dieksplorasi oleh banyak film Indonesia, Laundry Show, sayangnya, tersaji dengan garapan naskah cerita yang menemui cukup banyak permasalahan. Naskah cerita garapan Upi (#TemanTapiMenikah, 2018) sebenarnya lumayan berhasil untuk membangun dasar pengisahan yang menarik mengenai sosok karakter yang mencoba mandiri dengan mendirikan usaha bisnisnya sendiri.  Namun, alih-alih mempertahankan fokus pengisahan pada karakter Uki serta berbagai konflik yang menghadangnya ketika berusaha untuk mengembangkan usahanya, Laundry Show justru lebih memilih untuk memusatkan perhatiannya pada persaingan bisnis dan personal yang terbentuk antara karakter Uki dan karakter Agustina. Perseteruan antara kedua karakter tersebut, tentu saja, dapat diolah menjadi jalinan pengisahan yang kuat dan menarik. Sayangnya, Upi tidak pernah mampu memberikan pengembangan kisah yang lebih mumpuni bagi konflik tersebut selain untuk menghadirkan momen-momen komikal dalam linimasa penceritaan Laundry Show.

Deretan permasalahan yang coba dikisahkan oleh film ini juga seringkali terasa tampil setengah matang. Masalah demi masalah yang dihadapi oleh usaha layanan binatu milik karakter Uki tampil layaknya repetisi cerita daripada berhasil memberikan gambaran mengenai tantangan yang harus dihadapi oleh usaha layanan binatu tersebut. Elemen romansa yang terbentuk antara karakter Uki dan karakter Agustina juga gagal untuk tampil menarik ketika jalinan cerita romansa antara keduanya tidak pernah mampu diangkat secara lugas dan lebih sering dijadikan pemanis maupun latar belakang dari cerita lain yang sedang berjalan. Karakter Agustina yang menjadi bagian krusial pada kisah romansa yang dihadirkan Laundry Show juga tidak pernah mendapatkan penggalian karakter yang terlalu mendalam. Sebuah konflik yang melibatkan kehadiran aktor Willy Dozan di paruh akhir filn yang digunakan untuk menunjukkan pada penonton bagaimana rumitnya hubungan antara karakter Agustina dengan sang ayah juga tidak banyak membantu ketika porsi cerita tersebut tampil secara tiba-tiba dan dieksekusi terlalu terburu-buru.

Sebagai sosok yang bertanggung jawab di kursi penyutradaraan, Balki juga terasa tidak berbuat terlalu banyak untuk “menyelamatkan” kualitas narasi filmnya secara keseluruhan. Laundry Show memang mampu disajikan dengan tatanan kualitas produksi yang tidak mengecewakan. Didukung oleh penampilan dinamis William dan Anastasia – meskipun keduanya kerapkali hadir dengan chemistry yang tidak begitu meyakinkan, departemen akting film ini setidaknya juga berhasil digarap Balki dengan baik. Penampilan Tissa Biani, Erick Estrada, Indra Jegel, hingga Mbok Tun yang berperan sebagai para karyawan dari karakter Uki secara bergantian menghasilkan momen-momen komikal yang cukup menyenangkan. Namun, dengan kapasitas penceritaan yang tidak mampu untuk benar-benar berkembang dengan baik, Balki memang tidak memiliki banyak kuasa untuk menjadikan Laundry Show sebagai sajian yang lebih menarik lagi.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.