News


Senin, 20 Maret 2017 - 22:35:43 WIB
Bidah Cinta
Diposting oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 549 kali

 

Persoalan asmara terhalang tembok tinggi menjulang berwujud agama di Indonesia telah jamak diungkit-ungkit. Dalam khasanah film Indonesia kontemporer sendiri, kulikannya bisa dijumpai dalam Ayat-Ayat Cinta (2008),Cin(t)a (2009), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010), sampai Cinta Tapi Beda (2012). Isunya memang terbilang seksi, sekalipun solusinya kerap main aman lantaran rentan mengundang kontroversi tak perlu jika si pembuat film lantas mengambil penyelesaian yang memenangkan “cinta” alih-alih “agama”. Barangkali dilatari keengganan memicu keributan di era masyarakat yang kian mudah mengencang urat syarafnya ini, polemik asmara satu keyakinan beda paham tak juga diangkat oleh sineas tanah air padahal kasusnya di ruang publik tak kalah marak dibanding beda keyakinan (oh ya, kerap menjumpai pasangan gagal menikah disebabkan satu pihak menganut manhaj/metode A sementara pihak lain mengaplikasikan manhaj B). Beruntunglah Nurman Hakim yang sebelumnya gelontorkan realita kehidupan pesantren dalam 3 Doa 3 Cinta serta sentil atribut relijius di Khalifah, bersedia memberi publik kesempatan buat melongok kisah cinta terbentur paham melalui Bid’ah Cinta. Seperti halnya kedua film reliji buatan Nurman terdahulu, Bid’ah Cinta pun lebih dari sekadar berbincang soal “cinta terlarang” yang sebetulnya pemberi jalan saja ke persoalan lebih besar mengenai kian rumitnya kehidupan beragama di Indonesia dewasa ini. 
 
Karakter utama Bid’ah Cinta adalah dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, Khalida (Ayushita Nugraha) dan Kamal (Dimas Aditya). Berasal dari dua keluarga dengan pemahaman soal Islam yang bertentangan, menyulitkan keduanya untuk secepatnya melenggangkan hubungan ke ikatan pernikahan. Khalida adalah putri bungsu dari Haji Rohili (Fuad Idris), penganut Islam tradisional yang masih melestarikan warisan ulama-ulama terdahulu seperti tahlil, Maulid Nabi, serta ziarah kubur, sedangkan Kamal adalah putra semata wayang dari Haji Jamat (Ronny P. Tjandra), penganut Islam puritan yang menganggap amalan di luar Al-Qur’an dan Hadits adalah sebuah bid’ah – secara bahasa bermakna membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dilingkupi cinta, sejatinya hubungan antara Khalida dengan Kamal baik-baik saja meski tak bisa dihindari ada kalanya mereka berseteru soal pandangan agama. Perseteruan keduanya kian memanas tatkala Ustad Jaiz (Alex Abbad) dari kelompok Islam puritan makin menancapkan pengaruhnya di kampung tempat mereka bermukim. Khalida gerah melihat tindak semena-mena dari para santri Ustad Jaiz yang menguasai masjid kampung sebagai tempat peribadatan eksklusif bagi kelompok mereka, sementara Kamal yang menganggap amalan Haji Rohili dan para santrinya sebagai bid’ah (dan itu berarti dosa jika dilakukan) melihat tidak ada yang salah dari tindakan pengikut Ustad Jaiz yang semata-mata hanya ingin menegakkan akidah Islam. 

Ketimbang semata-mata membawa penonton pada sajian roman religi mengharu biru yang sarat akan tangis menangis akibat jalan terjal yang harus dilalui oleh Khalida dan Kamal hanya untuk bersatu dengan elemen religi ditempel sekenanya saja, Bid’ah Cinta justru sodorkan potret nyata, menyentil nan mengusik pikiran atas situasi bermasyarakat di tanah air dalam beberapa tahun belakangan yang kerap diwarnai perseteruan antar umat Islam dengan warna kelompok berlainan. Nurman tak bermaksud menyanjung kelompok tertentu lalu menyudutkan kelompok seberang seperti disangkakan ratusannetizen di kolom komentar “trailer Bid’ah Cinta” dalam Youtube karena film sejatinya hendak mempromosikan pesan mengenai toleransi yang agaknya mulai dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Sebagai percontohan, Bid’ah Cinta memilih Islam tradisional atau pro-tradisi dan Islam puritan yang memang kerap bersinggungan setidaknya di Jawa, lalu dihadirkan pula sosok pemuda pengangguran yang kerap mabuk-mabukkan dan waria bernama Sandra (Ade Firman Hakim) diantara kedua kelompok tersebut. Tidak ada keberpihakan secara eksplisit dari si pembuat film – walau tidak salah juga apabila ingin menunjukkan posisinya – dengan masing-masing kelompok digambarkan mempunyai titik lemahnya. Dalam artian, bukan dari ajaran melainkan adanya satu dua penganut yang kebablasan sehingga sedikit banyak berkontribusi atas pembentukan citra Islam secara keseluruhan. Dari Islam tradisional diwakili sosok kakak Khalida (Yoga Pratama) yang kerap memberi label ‘teroris’ terhadap Kamal sekalipun secara pemikiran, dirinya malah cenderung lebih radikal ketimbang Kamal.

Dari Islam puritan, sumbernya adalah kawan-kawan lama Ustad Jaiz dari pondok. Sebelum kehadiran mereka, ada harmoni dalam keseharian warga kampung: sholat berjamaah, masjid terbuka luas bagi siapapun yang hendak beribadah maupun menggelar kegiataan keagamaan tanpa ada batasan, dan tiada gesekan-gesekan konflik antara Ustad Jaiz dengan Haji Rohili. Ya memang benar ada kalanya Haji Rohili nyinyir soal konten dakwah Ustad Jaiz maupun penyampaiannya yang berapi-api, begitu pula Ustad Jaiz beserta para santrinya yang geleng-geleng kepala melihat praktek bid’ah yang terus dijalankan. Namun kedua belah pihak yang mengaplikasikan metode berbeda dalam menafsirkan ajaran Islam ini tidak pernah berbenturan satu sama lainnya karena tidak pernah ada niatan untuk melakukan intervensi terbuka di ruang publik. Seakan menyadari, samawi adalah urusan personal. Kehadiran kawan-kawan lama Ustad Jaiz lah akar dari segala masalah. Mereka menunjukkan sikap sama sekali tak bersahabat atau bisa juga dikata “kecongkakan religius” – menempatkan diri sebagai Tuhan dengan segala penghakiman-penghakimannya. Langkah pertama yang dilakukan adalah menguasai Masjid, mengharamkan segala bentuk aktivitas diluar ajaran yang tertuang di Al-Qur’an dan Hadits. Tidak berhenti sampai disana, mereka pun menghalangi Sandra yang selama ini diterima dengan baik untuk sholat dan berujung pada pengusiran dari masjid. 

Perebutan masjid memang nyata adanya – saya pernah menyaksikannya secara langsung di Semarang beberapa tahun lampau saat merantau dan hampir saja terjadi di kampung halaman – lalu bagaimana dengan waria dilarang beribadah? Mungkin sekali pernah dijumpai kasusnya. Kedekatannya pada realita inilah yang memudahkan untuk terhubung pada jalinan pengisahan yang ditawarkan oleh Bid’ah Cinta. Sekalipun bukan terhitung provokatif, malah penyampaiannya sesekali lucu, kebesaran hati disertai keterbukaan pikiran tetaplah perlu dijadikan sebagai landasan utama agar dapat mencerna maksud dibalik paparan Nurman dalam film ini yang sekali lagi perlu ditekankan yakni mengajak penonton bersikap toleran alih-alih memecah belah umat. Apabila kedua syarat tersebut telah terpenuhi, Bid’ah Cinta akan menjelma menjadi tontonan bernutrisi bagi otak. Mewartakan informasi bermanfaat untuk awam, sementara mereka yang pernah berada (atau minimal mengetahui) dalam situasi serupa dihadapi para penduduk kampung di film diajak untuk berpikir, melakukan perenungan mendalam, serta berdiskusi cerdas bersama kawan. Bukankah akan bikin adem hati apabila setiap Muslim bersedia untuk menerima perbedaan seperti ditampakkan pada adegan mula-mula dan penghujung Bid’ah Cinta? Mengingat karakter etnisitas kebangsaan di Indonesia tergolong beragam, tak pelak perbedaan akan senantiasa menyertai dan satu-satunya cara untuk menjembatani perbedaan adalah merayakannya. Menghargainya. Atau seperti kata Kamal, dengan cinta. Sungguh sebuah film yang bagus!

 


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.