Feature


Senin, 13 November 2017 - 20:15:13 WIB
[TIFF 2017] Wawancara Bersama Karina Salim & Cornelio Sunny Dari Film ‘Mobil Bekas'
Diposting oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 266 kali

oleh

Daniel Irawan (@DanielDokter)

Film Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran karya Ismail Basbeth, yang digagas secara crowdfunding dan sudah memulai debutnya di Busan International Film Festival sebelumnya, tahun ini menjadi salah satu seleksi dalam program Crosscut Asia #04 yang diprakarsai Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) bersama The Japan Foundation Asia Center. Selalu punya bidikan ke sinema negara Asia Tenggara, tema tahun ini yang merupakan kompilasi berjudul What’s Next from Southeast Asia buat merayakan ulang tahun ke-50 ASEAN juga diisi oleh Ziarah karya BW Purbanegara.

Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran sendiri merupakan sebuah omnibus yang dirangkai oleh subjek dalam judulnya, sebuah jip militer, sebagai benang merah tiap segmen yang mengisahkan berbagai karakter di dalamnya. Ada kisah seorang akuntan (diperankan Cornelio Sunny) yang tak bisa melupakan istrinya lalu menganggap mobil bekas itu seperti kekasihnya sendiri, pasutri bertaut usia jauh berbeda (diperankan Karina Salim dan kritikus senior Yan Widjaya) yang terlibat dalam tindakan brutal, tiga perempuan muda (diperankan Dea Ananda, Leilani Hermiasih dan Shalfia Fala Pratika) yang berdiskusi soal Tuhan, reinkarnasi serta alien dan bertemu seorang fotografer (Gandhi Fernando) di sebuah kedai dengan kokinya (Paul Agusta), seorang pelacur (Natasha Gott) yang ingin melarikan diri dan ditemukan seorang nelayan (Rukman Rosadi) hingga seorang perempuan (Sekar Sari) yang menanyakan keberadaan ayahnya pada seorang pria misterius (Verdi Solaiman). Selain mobil bekas, juga ada dua petani korban penggusuran (diperankan Ibnu Widodo dan Giras Basuwondo) sebagai perangkai segmen-segmen itu.

Cornelio Sunny & Karina Salim

Hadir untuk mempresentasikan penayangan perdananya di TIFF, Minggu (29/10), aktor/produser Cornelio Sunny dan aktris Karina Salim menyempatkan berbincang-bincang dengan sejumlah media dalam dan luar negeri. Berikut adalah kutipan wawancara dengan keduanya.

Mobil bekas dalam film ini digunakan sebagai simbol, seolah saksi mata dalam sekumpulan fragmen kisah yang dihadirkan. Apakah ada konsep keterkaitan di antara segmen-segmen tersebut?

Cornelio Sunny: Sebagai produser juga lebih tepatnya partner sutradara Ismail Basbeth dalam Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran, ada benang merah di antara segmen-segmen yang kami hadirkan. Konsep film ini bagi Basbeth sebenarnya berisi keresahan-keresahannya sebagai seniman atau filmmaker yang tidak bisa berbuat apapun terhadap kondisi negara kita sekarang ini. Dalam kata lain, ini seperti menjadi catatan sejarah lewat sudut pandang Basbeth, suatu pemaknaan terhadap Indonesia dengan mobil bekas yang digunakan sebagai metafora atau saksi mata. Dalam benang merahnya ada banyak isu-isu yang dibahas, yang masih hangat di masyarakat kita sekarang; dari bagaimana tatanan ekonomi, politik, sosial dan budaya berdampak bagi rakyat; yang akhirnya meneruskan perilaku korup dari lapisan atas hingga bawah dan seringkali juga mengorbankan orang lain demi kepentingan-kepentingan personal. Juga mungkin ada sindiran bahwa sekarang banyak seniman-seniman yang kami sebut filsuf kafe; mengacu pada para pelaku seni yang tidak melakukan sesuatu yang efektif tapi kerjanya hanya berkomentar.

Kenapa mobil bekas?

Cornelio Sunny: Ini alasannya sebenarnya sangat personal. Ide ini datang saat Basbeth yang waktu itu membeli mobil, dan karena belum sanggup membeli yang baru, yang ia beli akhirnya mobil bekas. Saat itu muncul perbincangan menarik bahwa di mobil bekas ini sebenarnya banyak peristiwa yang terjadi sebelum ia menjadi milik Basbeth, dan dari sanalah muncul ide buat film ini.

Apakah ada lapis-lapis masyarakat tertentu yang dicoba digambarkan lewat segmen-segmen dalam Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran?

Cornelio Sunny: Saya rasa iya, tapi lebih kepada dampak dari isu-isu yang kami hadirkan terhadap tipe-tipe masyarakat yang kami munculkan lewat karakter-karakternya. Ini sebenarnya menjadi catatan pribadi Basbeth dari sudut pandangnya, apa yang ia lihat dan ia rasakan lewat perkembangan perjalanan bangsa kita.

Saya mendengar bahwa Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran punya konsep unik dalam pembuatannya; bahwa filmnya tidak memiliki skrip namun hanya berupa treatment yang lantas membebaskan aktornya untuk menginterpretasikan sendiri karakter mereka. Dalam posisi seperti itu, bagaimana Anda bisa menyesuaikan diri ke dalamnya?

Karina Salim: Saya ngobrol banyak, seperti melakukan brainstorming dengan Basbeth sebagai konseptornya sebelum syuting. Walaupun bebas, tentunya ada patokan-patokan yang diinginkan Basbeth sebagai sutradara atas karakter saya. Tapi ada ruang yang sangat luas untuk pengembangan karakter yang saya ibaratkan sebagai kertas kosong yang diberikan pada saya untuk lantas digambar bersama Basbeth. Basbeth tetap memberi pengarahan, tapi saya bebas untuk mengembangkannya, dan sebaliknya, kalau apa yang saya interpretasikan melewati batas yang diinginkan Basbeth, kita akan berdiskusi lagi. Dan ini dilakukan Basbeth bukan hanya sebagai kelompok bagi seluruh cast per segmennya, tapi juga secara personal ke masing-masing aktor/aktrisnya.

Dengan pola kerja yang unik ini, apa tantangan yang Anda rasakan selama syuting?

Karina Salim: Tantangannya mungkin berupa teknis untuk menjaga mood dari adegan ke adegan. Untungnya di sini Basbeth melakukan syuting dengan urutan teratur sehingga saya tetap bisa benar-benar merasakan dan mengerti karakter yang saya perankan. Saya sebenarnya juga sudah pernah merasakan syuting tanpa skrip dalam film pendek Durable Love karya bang Joko Anwar, dan merasakan konsep-konsep seperti ini adalah sebuah tantangan karena lebih menuntut pertanggungjawaban dari aktor/aktrisnya sendiri.

Apa yang membuat kalian merasa cocok bekerja bersama Basbeth, terutama Sunny yang sudah beberapa kali main di film Basbeth termasuk Ritual dan Another Trip to the Moon?

Cornelio Sunny: Saya besar di Kanada, belajar film di sana dan pulang ke Indonesia 2009 akhir. Teman pertama saya ketika saya belum benar-benar bisa bahasa Indonesia adalah Basbeth. Saya mulai dekat dengan Basbeth karena ada sebuah skrip serupa yang kami tulis, namun saya menulisnya sebagai fiksi dan Basbeth dokumenter. Jadi saya merasakan ada kecocokan walaupun kami datang dari belahan dunia berbeda. Film itu (berjudul Fixation; film pendek berbahasa Inggris) tetap kami buat tapi tidak dirilis, hanya untuk seru-seruan. Sejak itu saya merasa punya chemistry saling melengkapi yang sulit dijelaskan dengan Basbeth, malah mungkin sudah seperti istri kedua (tertawa).

Karina Salim: Saya punya list sutradara yang saya inginkan untuk bekerjasama dan memang kebanyakan adalah sutradara-sutradara pembuat film alternatif, Basbeth paling tidak ada di top 5 list itu. Dari awal setiap kali bertemu Basbeth saya selalu meminta diajak bermain di filmnya. Jadi saya tidak berpikir dua kali saat diajak ikut di Mobil Bekas, apalagi filmnya adalah film alternatif, dan saya selalu senang untuk berkarya bersama-sama.

© 2017 tiff-jp

Syuting film ini juga kabarnya dirancang tidak sebagai syuting konvensional melainkan sesuatu yang baru yang kalian sebut Picnic Cinema. Bisa ceritakan seperti apa konsepnya?

Cornelio Sunny: Saya dan Basbeth adalah partner dalam PH yang kami namakan Mata Sinema. Kita juga punya institusi yang berbeda dengan PH-PH konvensional yang cenderung mengarah secara market oriented, yang kami namakan Bosan Berisik Lab. Dorongannya adalah kita merasa kalau dalam filmmaking ada ilmu pengetahuan yang bisa dikembangan dan dikelola ulang. Bosan Berisik Lab ini adalah salah satu sarana untuk itu, di mana kami bersama partner-partner yang lain termasuk Liza Anggraini (istri Basbeth) dan Charlie Meliala ingin bereksperimen buat mencari cara-cara baru dalam teknis filmmaking. Dengan semua pengetahuan yang kita punya, apakah bisa membuat film melalui rasa atau gagasan tanpa mengikuti pakem-pakem konvensional dalam filmmaking, termasuk membuat film tanpa skrip. Dan Basbeth sebagai sutradara memang selalu berusaha menguji batas kemampuannya. Jadi ini merupakan eksperimentasi objek yang juga kita rencanakan menjadi program untuk mendukung bakat-bakat penyutradaraan baru yang mungkin belum terlalu terbiasa dengan tekanan atau tantangan yang biasa ada dalam syuting film rata-rata. Ini jauh lebih fleksibel, seperti syuting dengan gaya piknik, dan kami namakan Picnic Cinema.

Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran juga dibuat dengan cara crowdfunding lewat banyak nama sebagai co-producer-nya. Bagaimana cara kalian mempertanggungjawabkan film ini terhadap para crowdfunder-nya sebagai investor yang membiayai pembuatan filmnya?

Cornelio Sunny: Karena namanya crowdfunding, kami memang tidak memaksa. Kami membuka konsepnya kepada publik dalam rangka mengumpulkan investor itu secara sangat terbuka di mana peminatnya bisa ngobrol lebih jauh buat mengenali konsepnya, dan sebenarnya batasan keikutsertaan sebagai produser eksekutif itu tidak tertutup hanya dari support berupa pembiayaan. Kita menghitung support-nya berdasarkan market value, di mana ada sejumlah eksekutif produser yang menyumbang skill seperti skill akting atau yang lain. Dari awal kita juga tidak berbohong tentang konsep eksperimental tadi. Jadi sudah ada konsekuensinya bahwa film ini bukanlah sebuah film yang dirancang untuk pasar walau bukan berarti tidak punya sasaran audiens, dan kita memang berniat mencoba melakukan trial untuk memasarkan Picnic Cinema dalam konteks filmmaking. Dalam konteks film sebagai Director’s Film dan Producer’s Film, filmnya sutradara atau filmnya produser. Dalam film sutradara biasanya sutradara lebih dulu membuat film sesuai visi dan keinginannya, baru lantas saya sebagai produser mencari segmen pasarnya. Untuk Mobil Bekas, tentu kita akan mengadakan pemutaran terbatas untuk para crowdfunder-nya sebelum nantinya merancang pemutaran untuk publik. Saya kira itu batasan pertanggungjawabannya, dan lagi, keikutsertaan Mobil Bekas ke Busan sebagai nominasi Kim Ji-seok Award bersaing dengan 9 film dari negara lain dan Crosscut Asia di TIFF tetaplah merupakan sebuah pertanggungjawaban bahwa kita sudah membuat film yang layak untuk bersaing di festival-festival internasional.

Dari perjalanan karir Anda sebagai aktris, dari What They Don’t Talk When They Talk About Love ke omnibus Pintu Harmonika dan Salawaku tahun lalu, sebenarnya eksplorasi peran seperti apa yang Anda harapkan?

Karina Salim: Mungkin semua aktor pada dasarnya ingin memerankan karakter yang berbeda-beda, juga sesuatu yang jauh dari karakter aslinya agar bisa terus belajar dan mengasah aktingnya. Saya juga seperti itu, tapi pada dasarnya saya selalu menjaga sebisa mungkin untuk tidak memerankan karakter yang sama. Jika ada tawaran yang datang untuk memerankan tipe karakter yang sama saya lebih memilih tidak menerimanya walaupun ini bukan benar-benar strict. Ada hal-hal yang harus didiskusikan dengan manager saya dalam pemikiran-pemikiran komersil, tapi pada prinsipnya saya lebih suka berkarya daripada sekedar bekerja. Dalam konteks eksplorasi peran, sebenarnya ingin sekali memerankan tokoh sejarah dan ini belum kesampaian hingga sekarang.

Sebagai karya kolaborasi yang digagas dengan crowdfunding, rencana pemasarannya seperti apa? Apakah nantinya akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia?

Cornelio Sunny: Terus terang kita belum berpikir sampai ke sana. Kalau melihat kontennya, sepertinya memang sulit untuk menayangkan Mobil Bekas ke bioskop-bioskop kita, hanya saja kita sebagai penggagasnya tetap akan berusaha menayangkan filmnya di fasilitas-fasilitas atau ruang putar alternatif atau komunitas. Pada dasarnya kita tetap ingin Indonesia punya lebih banyak film-film alternatif dalam pilihan menonton bagi audiens.

Oke, terakhir, apa pendapat kalian tentang perkembangan film indie/alternatif di sinema kita sekarang?

Cornelio Sunny: Di Indonesia batasan film sebagai karya indie sebenarnya masih belum benar-benar jelas karena industri kita masih sangat terbatas kalau tidak mau menyebutnya ada di kelas home industry. Ini beda dengan di luar, Hollywood – misalkan, yang pemaknaan film independen sudah cukup jelas berupa film yang berada di luar major studios. Saya lebih suka menyebutnya film alternatif, dan bagi saya, perkembangan film alternatif Indonesia sudah sangat baik. Tahun ini ada Marlina the Murderer in Four Acts karya Mouly Surya yang berhasil masuk Cannes, The Seen and Unseen Kamila Andini di Toronto, begitu juga sineas-sineas lain yang selalu mengantarkan karyanya ke festival-festival internasional seperti Yosep Anggi Noen dengan Istirahatlah Kata-Kata dan banyak lagi. Ini sedikit banyaknya akan mulai membuat semakin banyak audiens yang melirik ke film-film alternatif.

Karina Salim: Kurang lebih sama seperti yang disampaikan Sunny, saya merasa perkembangan film alternatif kita sangat positif, termasuk film terakhir saya Salawaku yang walaupun menurut saya belum termasuk arthouse, tapi juga bukan benar-benar mainstream dalam artian untuk mass audience. Sebagai film alternatif, Salawaku juga membawa saya berkeliling festival-festival internasional termasuk Bulgaria yang mungkin bukan festival yang terlalu besar dan lebih berupa movie week, tapi sambutannya sangat apresiatif.

Cornelio Sunny: Saya tambahkan sedikit, mungkin bisa dibilang ada pergeseran persepsi juga terhadap tipe-tipe dan pengelompokan film. Di Indonesia mungkin film alternatif pemahamannya cenderung pada konsep-konsep realis atau surealis, sementara film-film mainstream ada di ranah hiperrealis. Salawaku saya kira masuk ke ranah realis walaupun sangat naratif, karena itu masih bisa digolongkan sebagai film alternatif. Sementara di beberapa negara luar termasuk Jepang atau Korea, konsep-konsep realis sekarang sudah berkembang tidak lagi dipandang sebagai alternatif tapi justru sudah masuk ke ranah mainstream. Saya berharap ke depan penonton kita lebih siap terhadap film-film dengan konsep realis, surealis atau eksperimental.



Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.